Tingkah laku warganet Indonesia sekarang ialah untuk selalu update berbagai kasus yang harus dikomentari. Ketika muncul satu nama yang viral, para warga net berbondong-bondong ke akun Instagram-nya meninggalkan berbagai macam komentar tapi ternyata salah alamat hanya nama yang mirip dengan sosok viral.
Ria Ariyanie, Praktisi Humas dan Komunikasi mengatakan, menjadi netizen di Indonesia itu sungguh berat seperti sebuah keharusan untuk selalu mengomentari kehidupan orang lain. Sebuah sindiran halus untuk para netizen Indonesia yang senang berkomentar mengenai apapun.
Padahal, seharusnya jadilah netizen “CERDAS” agar netizen Indonesia tidak lagi dikenal sebagai netizen paling tidak sopan di dunia. CERDAS yang dimaksudnya ialah:
C yaitu Cek fakta, kritis saat menerima informasi, cari tahu dulu kebenarannya. Cari referensi oleh ahli di bidangnya, baca berita yang hanya ada keterangan para ahli dan terakhir penting untuk tahu pengalaman orang atau testimoni.
“Saya melakukan ini waktu Vaksin AstraZeneca muncul banyak sekali hoaks yang bertebaran. Yang saya lakukan untuk mencari tahu yakni dengan bertanya langsung kepada teman yang sudah divaksin AstraZeneca,” ungkap Ria saat menjadi pembicara dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (14/7/2021).
E untuk Empati, pakai sepatu milik orang lain memang tidak nyaman. Menurut Ria, seandainya kita tahu apa yang dialami orang yang kita lihat beritanya. Kita akan merasakan dan akan berpikir ulang untuk menyebarkan cerita tersebut.
R yakni Rasa, bahasa tulisan itu berbeda dengan lisan. Menyampaikan apa yang kita pikirkan ke tulisan berbeda dengan menjelaskan secara langsung. Berbeda ketika kita menuliskan jurnal membutuhkan kata-kata yang dimengerti pembaca. Intonasi berbeda berbeda pula maknanya atau emosi kosakata untuk tidak menciptakan perbedaan. “Sebelum berkomentar, coba kita pikirkan dulu apakah komen ini akan menyakiti atau membuat dia tidak nyaman,” ujar CEO Talk Link ini.
D itu Dalami, budayakan untuk membaca, dengarkan dan pahami. Judul memang terkadang menipu karena judul artikel online sekarang memiliki fungsi clickbait atau sangat menarik untuk di klik tapi terkadang berbeda isinya. Maka penting bagi kita, jika memang tertarik dengan judulnya coba untuk baca keseluruhan isi apakah sesuai, apakah memang seperti judulnya yang sangat menarik.
A untuk Awasi, berekspresi dengan aman dan waspada. Jangan bagikan data pribadi, lokasi dan identitas lengkap kita. Ria mengingatkan untuk perhatikan detail foto. Sebelum posting tutup detail yang dapat memicu perundungan atau kriminalitas. Beberapa orang juga menutup wajah anak karena merasa anak mereka ialah privasi.
S ialah Saring sebelum sharing, sharing itu peduli bukan provokasi, jauhkan postingan kita dari SARA, hoaks, kebencian. Buat konten positif menginspirasi, informatif dan menghibur. Membantu atau simple of kindness, kita bisa menggalang dana atau lainnya.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKomInfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (13/7/2021) ini juga menghadirkan pembicara Litani Wattimena (Brand & Communication Strategist), Sisi Rustandi (Dosen Telkom University), Sri Astury (Dosen ULM Banjarmasin) dan Marsha Risdasari sebagai Key Opinion Leader.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.
Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.












