Setelah kita memahami dan dan menggunakan berbagai macam platform media sosial. Apakah kita sudah terbebas dari keamanan digital karena kebiasaan kita di ruang digital adalah kekurangan empati?
Hal ini ada hubungannya juga dengan digital safety karena terkadang kita sendiri yang dengan sukarela menyebarkan data-data pribadi di media sosial secara tidak sadar. Sekarang sering sekali terjadi peretasan online, bisa jadi itu karena selama ini tidak disadari kebiasaan kita sehari-hari suka menginformasikan data-data pribadi kita yang sebenarnya tidak boleh di-share.
Ismita Saputri, Entrepreneur Digital Business Coach dan podcaster, mengatakan masyarakat harus lebih berhati-hati dalam membuat password. Tidak membuat password dari nama lengkap atau hal-hal yang biasa dipakai di media sosial. Misalnya nama lengkap, nama pasangan, nama anak, tanggal cantik anak, tanggal sama pasangan karena kita bisa saja suka membagikan tanggal-tanggal tersebut.
Data pribadi itu ada yang bersifat umum seperti nama lengkap, jenis kelamin, kewarganegaraan, agama dan yang ada semua data di KTP. Jangan lupa juga untuk tidak menyebarkan KTP kita secara luas atau memberikan kepada orang untuk tujuannya tidak jelas.
“Kalau sekarang sekarang adalah membagikan foto sertifikat vaksin yang sebenarnya itu mencantumkan identitas kita melalui barcode jangan sampai kita foto seperti itu,” ujarnya saat menjadi pembicara dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (26/7/2021).
Data pribadi yang bersifat spesifik seperti kesehatan catatan, kejahatan, data biometrik hal-hal seperti itu tidak perlu kita share di akun media sosial. Karena takutnya para pelaku tindak kejahatan itu mereka bisa dengan mudah membaca pola hidup kita dan merendahkan kita.
Jadi, apa saja yang harus dilakukan? Berbagi berita positif atau yang baik, selalu menghormati orang lain bahkan jika senang berbeda pendapat dengan dia.
“Terkadang kita menghabiskan banyak waktu berdebat untuk hal sepele di ruang digital sehingga mengakibatkan bermusuhan,” ungkap Ismita
Verifikasi semua permintaan data pribadi dan berhati-hati dengan link mencurigakan. Tetap melakukan saring sebelum men-sharing dan jangan lupa untuk tidak selalu curhat di media sosial terkait dengan keamanan data kita dan jejak digital kita atau reputasi online. Jangan sampai kita sering curhat di media sosial dan mempengaruhi masa depan kita. Karena saat ini para penerima pekerja mengecek media sosial kita saat menerima lamaran kerja, apakah orang ini kredibel atau tidak punya rekam jejak digital yang buruk atau tidak?
Hati-hati dengan penipuan online bentuknya ada macam-macam, ada yang dari WhatsApp, SMS, via telepon menyerang emosional psikologis kita perlu diwaspadai jika menggunakan WhatsApp via telepon biasanya itu mereka ujung-ujungnya mereka minta disebutkan sebuah angka padahal itu adlah OTP atau (One Time Password).
“Jangan pernah memberikan OTP atau nomor yang dikirimkan lewat SMS ke orang yang sedang menelpon dengan kita atau yang WhatsApp dengan kita. Dia akan mengaku kasir Indomaret mengatakan salah memasukkan voucher game. Jadi kita diminta menyebutkan kode 6 angka yang dikirimkan. Jangan percaya itu mau merupakan jebakan itu adalah OTP Kita sebenarnya,” jelasnya.
Paling banyak modus penipuan online itu ada di grup keluarga yang membagikan tentang pendaftaran bantuan sosial berupa link. Jangan sampai kita masuk dalam yang tersebut dan memberikan data-data pribadi kita.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (26/7/2021) juga menghadirkan pembicara Vitalia Fina Carla (Universitas Bali Internasional), Denden Sofiudin (Rumah Kopi Lumajang), Ria Aryanie (Talk Link) dan Ida Rhinjsburger sebagai Key Opinion Leader.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.
Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.












