Media sosial juga dapat menjadi etalase untuk mempromosikan produk, karya atau bakat seseorang. Media digital ini menjadi representative atau cerminan diri sehingga wajib bagi mereka yang ingin menjadikan media sosial sebagai etalase karya.
Seperti influencer Tresia Wulandari, bukan hanya bermodal selfie cantik dan gaya berbusana kekinian mampu menghasilkan pengikut belasan ribu di Instagram dan ribuan subscriber di YouTube. Dia pun kerap membagikan ilmu menarik dan pengalaman seru sesuai dengan aktivitas sehari-harinya.
Tresia merupakan seorang News Anchor sebuah TV nasional yang tayang juga untuk TV lokal. Selain itu perempuan berhijab ini merupakan pengusaha dengan bidang usaha ternak ikan dan seorang dosen.
Tidak heran, menjadi influencer mengusung wanita aktif pekerja dan entrepreneur ini juga mampu menghasilkan pundi-pundi dari media sosialnya.
“Saya sering membagikan keseharian saya ketika saya siaran, mengajar dan tentu diselipkan beberapa informasi yang mungkin beberapa orang di luar sana belum tahu. Saya kira memang kita harus memanfaatkan media sosial kita sebaik-baiknya,” ujarnya ketika didapuk menjadi Key Opinion Leader dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (27/7/2021).
Konten yang Tresia buat yakni yang masih ada hubungannya dengan profesinya. Dia pernah membuat video YouTube bagaimana caranya memanen ikan mas dan tips-tips memiliki seni berbicara.
Dalam membuat konten baginya tidak ada kesempatan kedua untuk membuat kesan pertama. Sehingga dalam 3 detik kit harus membuat audiens dapat memutuskan untuk menonton lebih lanjut konten kit atau tidak.
Pesannya bagi siapapun dengan profesi apapun, coba untuk membuat konten daripada membuang-buang kuota atau hanya stalking kehidupan orang lain. Lebih baik menciptakan konten yang positif bisa menginspirasi.
Ketika sudah menjadi influencer, banyak hal yang harus diperhatikan terutama sikap dan konten. Merasa sudah menjadi bagian dari publik, kini dia mengaku lebih baik dalam bertutur dan bersikap karena khawatir akan ditiru pengikutnya.
“Saya juga selektif dalam review produk tidak asal-asalan dan tentu memilih sesuai dengan kepribadian saya. berusaha untuk jujur dalam setiap review,” ungkapnya.
Bagaimana bisa kolaborasi sekarang bukan jamannya berkompetisi namun dengan sesam influencer atau tokoh manapun dapat berkolaborasi. Kemudian, Tresia juga tidak asal dalam mengunggah, dia paham primetime untuk media sosialnya.
Bukan hanya acara TV saja yang memiliki primetime biasanya pukul 7 – 9 malam. Di media sosial juga ada primetime yang setiap influencer berbeda dilihat dari segmentasi folowers.
“Pengikut saya perempuan dewasa, pekerja jadi menurut jam 1 siang – 5 sore di saat setelah istirahat atau sedang menghilangkan rasa bosan mereka akan mengecek media sosial, saya hadir di situ,” terangnya.
Baginya, menjadi pendengar memang butuh usaha yang bagus tapi menginspirasi menjadi orang inspirasi itu membawa kita ke level yang lebih tinggi.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Selasa (27/7/2021) juga menghadirkan pembicara Ria Aryanie (Praktisi Humas & Komunikasi), Leni Fitriani (RTIK Garut), Catur Nugroho (Telkom University), dan Didin Miftahudin (GMath Pro Indonesia).
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.
Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.












