Membangun masyarakat yang berbudaya dimulai dari pribadi masing-masing. Dalam diri yang patut diangkat mengenai kecerdasan emosi.
Golda Siregar, Behavior Consultant dari Power Character mengatakan, betapa kecerdasan emosi ini harus diperhatikan oleh kita terutama disaat seperti pandemi seperti ini.
Seringkah melihat ada orang yang sering marah-marah di media sosial bukan hanya berbentuk kata-kata bisa juga berbentuk emoticon. Entah itu marah ataupun sedih karena emosi itu bukan hanya marah saja. Tanpa kita sadari banyak orang sekarang yang sedang butuh perhatian.
Dalam kecerdasan emosi ada empat elemen dasar. Pertama, interpersonal kita secara pribadi untuk menjadi tenang, rileks sejenak.
“Maka saya memotivasi agar Anda ketika bangun pagi jangan langsung mengecek ponsel, buka media sosial cek timeline atau pesan di WhatsApp. Coba untuk sekadar rileks beribadah, membangun kedekatan dengan Tuhan dalam keadaan rileks. Jaringan-jaringan dalam otak itu menyatu kalau difoto itu warnanya terang membuat kita menjadi lebih kreatif,” jelasnya saat menjadi pembicara dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (27/7/2021).
Kemampuan untuk menjadi tenang apalagi dengan kondisi sekarang, kita dituntut untuk selalu mengikuti perubahan-perubahan yang ada. Kemampuan kita ketika intrapersonal itu akan membuat kita dapat beradaptasi.
Self adaptive atau kemampuan kita dalam beradaptasi akan sangat bermanfaat ketika dalam situasi banyak perubahan. “Memang sebuah perubahan itu tidak ada yang menyenangkan karena kita meninggalkan zona nyaman tapi kita sebagai manusia dikaruniai Tuhan untuk selalu adaptasi. Dinosaurus itu punah karena dia tidak bisa beradaptasi tapi manusia dari abad ke abad selalu ada karena kita bisa beradaptasi,” ungkap Golda.
Selanjutnya interpersonal hubungan kita dengan orang lain, ini sangat penting sekali untuk kita berinteraksi dengan memiliki empati. Hampir setiap hari kita selalu berita duka, maka dari itu perlu meningkatkan empati diri belajar peduli dengan orang lain.
“Ketika saya kemarin sempat positif Covid-19, lalu saya mendapatkan semangat walaupun hanya berupa DM Instagram dan pesan WhatsApp dari teman-teman saya. Saya merasakan sesuatu semangat yang luar biasa saya merasa itu adalah booster saya,” kenangnya.
Ketika kita memiliki empati yang baik kita melihat stres itu dengan cara yang positif. Kita menjadi paham masalah dan tekanan itu tidak ada waktu kadaluarsanya sehingga tugas kita saat ini bagaimana dapat mengelola rasa emoai dengan bijak.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (27/7/2021) juga menghadirkan pembicara Meilani (RTIK Jawa Barat), Ginna Desiana (Dolananyuk.id), Stefani Anggriani (Content Creator), dan Tanisha Zarfa sebagai Key Opinion Leader.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.
Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.












