Budaya merupakan warisan yang tidak akan pernah habis. Selama sumber daya manusianya masih ada dan masih mau diwariskan serta mempertahankan, maka budaya masih tetap ada.
Budaya juga diartikan sebagai hal yang berkaitan dengan budi dan akal. Jadi selama masih ada akal manusia budaya akan tercipta. Ketika nenek moyang kita menghadapi alam yang tropis panas kemudian hujan, akhirnya mereka mencoba membuat kain. Kain itu yang pertama termasuk kebudayaan paling tua yakni kain tenun. Berbeda dengan batik yakni melukis di atas kain.
Catur Nugroho, dosen komunikasi Universitas Telkom mengatakan dengan akal pikiran yang dimiliki manusia mampu berkarya dan berkreasi. Termasuk bagaimana kita memanfaatkan media digital untuk mengenalkan budaya Indonesia.
“Kebetulan saya pernah membuat film dokumenter tentang seorang penenun pria yang sekaligus guru SD. Saya ikutkan di Busan Film Festival walaupun tidak menang tapi saya sudah mencoba. Bagaimana kita berkreasi membuat konten dengan tema budaya Indonesia yang sangat kaya,” ungkapnya di Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Jumat (30/7/2021).
Para kreator masa kini dapat memanfaatkan Indonesia yang merupakan negara kepulauan ini yang memiliki 17.508 pulau besar dan kecil. Saking banyaknya baru 6.044 pulau yang sudah diberi nama.
Budaya Indonesia juga sangat luar biasa ada 1.300 lebih kelompok etnik atau suku bangsa dari Sabang sampai Merauke. Memang agak susah untuk bisa menjangkau seluruh kelompok tersebut, kita dapat berkunjung ke kelompok terdekat dahulu
“Bahasa juga ada 652 dan 2.117 cagar budaya. Di dunia hanya Indonesia yang memiliki kekayaan budaya sebanyak ini. Makanya saya mengajak teman-teman, di tengah teknologi ini ini terutama audiovisual dapat ikut bangga akan kebudayaan dengan membuat konten budaya. Minimal sebuah foto yang bercerita,” ungkapnya.
Catur membandingkan pada zamannya dulu saat harus mengerjakan tugas fotografi. Bagaimana menggunakan rol film, isinya 36 ada bonus 3 film. Kameranya masih manual, sekarang sudah berbeda untuk membuat konten dengan teknologi digital jauh lebih mudah.
“Bahkan di kampus saya melihat potensi ini, kami memutuskan untuk membuat jurusan digital content. Selama ini broadcast biasa tapi imemang sudah fokus penyiaran khusus untuk media digital bukan lagi ke media penyiaran konvensional. Walaupun itu hanya berpindah medium saja tapi dasarnya sama seperti sinematografi,” jelasnya.
Sudah banyak film pendek yang dibuat secara vertikal karena menyesuaikan untuk ditonton di ponsel melihat kondisi media sosial kita yang lebih banyak diakses melalui smartphone.
Meskipun, teknologi memudahkan namun sesungguhnya, teknologi modern dapat menghapus nilai-nilai tradisi budaya dan cakrawala. Jangka panjang manusia demi kebutuhan material semata manusia dipengaruhi perkembangan teknologi sehingga manusia harus menyesuaikan dan beradaptasi dengan teknologi dan media baru.
Konsekuensi negatif dari perkembangan teknologi adalah hasil dari penggunaan yang buruk oleh masyarakat bukan dari sifat teknologi itu sendiri. Jadi, jangan sampai warga digital dikendalikan teknologi, beradaptasilah dengan media baru ini.
Budaya baru yang muncul sebagai akibat dari perkembangan teknologi terjadi di berbagai bidang seperti musik, karya sastra, perfilman, transaksi dan banyak bidang lainnya budaya baru ini. Muncul karena pergeseran pemenuhan kebutuhan masyarakat akan informasi. Budaya baru dalam digital mempercepat proses globalisasi yang berimplikasi terbentuk multikultural.
“Budaya baru yang sekarang ini muncul mau tidak mau memang harus dijalani yang dulu yang masih offline termasuk pada bidang seni sekarang online,” tuturnya.
Konsekuensi logis globalisasi hilangnya kearifan lokal dan budaya asli suatu kelompok masyarakat, menurunnya rasa nasionalisme dan patriotisme juga hilangnya nilai gotong-royong.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKomInfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Jumat (30/7/2021) juga menghadirkan pembicara AmyKamita (Kreatif Konten), Bukhori (RTIK Indonesia) dan Felix Kamanto (dosen psikologi dan peneliti SDM) dan Yumna Aisyah sebagai Key Opinion Leader.












