Budaya digital merupakan sesuatu yang selalu kita lakukan atau refleksi dalam kehidupan sehari-hari. Berbicara budaya digital, bagaimana teknologi dan internet membentuk cara kita berinteraksi. Jika dulu budaya berbasis nilai hidup, kini budaya digital hadir karena interaksi antarsesama orang yang kini sekarang sudah terbiasa hidup dengan internet.
Budaya digital juga erat kaitannya dengan bagaimana berinovasi, membangun cara berpikir dan cara kita berkomunikasi. Inilah yang dikenal dengan transformasi digital, jadi segala sesuatu yang berbasis digital atau teknologi yang mendasari tingkah laku kita cara pikir dan cara kita berkomunikasi. Cara berpikir dan berkomunikasi ini penting untuk dilakukan dalam menghadapi begitu banyak tantangan yang dihadapi mulai dari berita hoax, cyberbullying pornografi hingga kecanduan internet.
Tantangan seperti ini menjadi kekhawatiran orang tua dalam melepas anaknya di dunia digital. Namun sesungguhnya di balik dari tantangan itu banyak peluang yang didapat dari internet.
“Kalau saya senang sekali melihat sesuatu dari sisi positifnya walaupun pasti ada tantangan tapi peluangnya pasti jauh lebih banyak dan ini harus kita hadapi, buat segala hal yang sifatnya tantangan untuk menjadi peluang yang lebih besar,” ungkap Made Sudaryani, konsultan dan praktisi SD dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital di wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (7/9/2021).
Dia meyakinkan tantangan menjaga dan mendidik anak di era digital bagaimana orangtua dapat dapat membangun keterbukaan dan komunikasi dengan anak. Tujuannya, agar hanya orang tua tempat mereka berbagi sehingga mereka dapat lebih terbuka untuk menceritakan apapun. Tentu ini menjadi antisipasi saat mereka masuk dalam dunia digital.
Orang tua dapat menanamkan prinsip dan nilai, karena anak sudah terbuka dan percaya dengan orang tuanya. Ini merupakan kesempatan yang baik untuk para orang tua menanamkan prinsip dan nilai dalam kehidupan misalnya etika dan sopan santun di mana saja termasuk saat sedang berselancar di internet.
“Berikan contoh yang baik, apa yang kita lakukan itu itu jauh lebih membekas di benak anak daripada 1000 kata-kata. Penanaman nilai bukan hanya kemampuan kita berbicara dengan anak tapi lebih penanaman nilai yang direpresentasikan dalam tindakan orang tua. Saat di media sosial pun biarkan orang tua berteman dengan anak, biarkan anak melihat apa yang orang tua bagikan, apa yang di-posting dan bagaimana orang tua berkomentar dengan sesama warga digital. Sehingga tanpa perlu banyak kata-kata untuk mengingatkan dia akan mencontoh apa yang kita lakukan di ruang digital,” jelasnya.
Kemudian, pahami minat dan potensi anak, Made menilai setiap orang tua dapat memaksimalkan peran dalam mencari dan memberikan opsi preferensi dan lingkungan yang sesuai untuk masa depan anak. Selain lingkungan, orang tua juga dapat membimbing anak dalam merencanakan impiannya, menemukan minat bakat, mengetahui tipe kecerdasannya dan hal-hal lain yang menunjang masa depan anak.
Mendampingi proses eksplorasi diri menjadi cara selanjutnya, pastikan orang tua ada di waktu-waktu penting menurut anak. Misalnya dalam penentuan keputusan, saat-saat di mana anak sedang galau, pastikan orang tua hadir. Jangan sampai mereka justru memilih melampiaskan ke media sosial atau gadget mereka. Pastikan orang tua hadir sebagai ring satu aduan permasalahan mereka, komunikasi antara anak dan orang tua itu memang sangat penting.
Webinar juga menghadirkan pembicara Ryzki Hawadi (CEO Attention Indonesia), Littani Watimena (Brand & Communication Strategist), (Fiqri Hasan Relawan TIK Sukabumi), dan Kila Shafia sebagai Key Opinion Leader.












