Budaya merupakan cara hidup yang berkembang dan diwariskan. Budaya ini berbentuk tarian, baju adat, bahasa, tradisi, dan sebagainya. Akan tetapi, akar dari budaya itu ialah nilai hidup.
“Nilai hidup yang diwariskan ini melahirkan beberapa hal, salah satunya adalah budaya. Jadi budaya ini adalah salah satu dari bentuk nilai hidup,” jelas Oriza Sativa seorang psikolog klinis saat menjadi pembicara dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (7/9/2021).
Permasalahan kehidupan masyarakat Indonesia di dunia digital karena adanya penyimpangan perilaku atau tidak dimilikinya nilai hidup tersebut. Oriza menyampaikan terdapat beberapa permasalahan yang terjadi pada masyarakat Indonesia di antaranya menurunnya atensi dan konsentrasi, gangguan kesehatan, penyebaran berita bohong secara masif, risiko kejahatan, gaya hidup yang buruk, serta hubungan tidak harmonis.
Permasalahan tersebut bisa dipicu literasi digital yang kurang baik. Sementara itu, pada usia remaja permasalahan yang terjadi yakni risiko kecanduan, masuknya aliran-aliran (radikalisme, komunisme, terorisme), terjadinya krisis identitas, risiko terkat seksual (LGBT, sex online), berbagai gangguan psikis, dan perilaku konsumtif.
“Generasi sekarang begitu masif terpapar oleh komentar-komentar dari orang lain, tetapi mereka tidak cukup memiliki ketahanan batin dan mental untuk menghadapi hal itu,” ujarnya.
Menghadapi permasalahan tersebut, yang harus dilakukan oleh generasi saat ini menurut Oriza ialah kembali kepada nilai hidup yang dimiliki. Nilai hidup ini ialah yang telah dilestarikan sejak lama bahkan yang dilupakan atau tinggalkan.
Menurutnya, dalam hidup kita harus mengetahui nilai yang kita cari dan budayakan. Oriza sendiri membagi value ke dalam empat kategori sesuai usia, yakni usia anak (2-7 tahun), usia pubertas (7-12 tahun), usia remaja (12-18 tahun), dan dewasa (18 tahun ke atas).
Pada usia anak nilai hidup yang bisa diterapkan, seperti menyayangi sesama, kepatuhan, hormat kepada orang tua, memaafkan, berbagi, kedisiplinan, dan kemandirian. Pada usia pubertas, nilai-nilai ini berupa tanggung jawab, konsistensi, kejujuran, kesetiakawanan, kreativitas, kerjasama, dan toleransi.
Ia melanjutkan, di usia remaja nilai hidup meliputi ketenangan, kesabaran, kesederhanaan, rendah hati, optimisme, percaya diri, dan cinta kasih. Lalu, di usia dewasa seseorang harus memiliki nilai hidup, yakni kesetiaan, integritas, ramah tamah, kerja keras, ketabahan, keberagaman, dan harga diri.
Oriza menyampaikan, nilai-nilai hidup ini seperti Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai pegangan kita. Hal ini bisa diibaratkan sama dengan sebuah perusahaan yang memiliki visi misi sebagai pegangan juga tujuan. Ia mengatakan, setidaknya terdapat tiga nilai yang kita pegang, seperti toleransi, bertangungjawab, atau persatuan.
Sebagai orang tua, panduan nilai hidup yang bisa dilakukan paling utama ialah menjadi role model atau anutan bagi anak-anak. Kemudian juga, menumbuhkan nilai-nilai kehidupan kepada anak. Selain itu, menumbuhkan kualitas hidup yang positif dalam berinternet.
Webinar juga menghadirkan pembicara, Diondy Kusuma (Owner Diana Bakery), Sriyo Zidni (Pendongeng), Riri Ariyanie (Praktisi Humas & Komunikasi Co-Founder, CEO Talk Link), dan Rio Silaen sebagai Key Opinion Leader.












