Media massa cetak kini bertransformasi menjadi portal online, beberapa dari media cetak masih eksis namun juga membuka media online agar tetap mengikuti perkembangan zaman. Namun media massa online juga memiliki pesaing dalam hal menyebarkan informasi yakni dari media sosial. Sebab kini media sosial kerap dijadikan sumber informasi masyarakat bahkan tempat untuk memverifikasi informasi.
Demikian yang disampaikan Ahmad Rofahan Ketua Relawan TIK Kabupaten Cirebon yang juga seorang wartawan ini. Padahal media sosial tidak diketahui siapa yang membuat berita atau informasi sehingga tidak heran informasi hoaks banyak menyebar di media sosial.
“Kini banyak orang sudah merasa sebagai seorang pewarta membuat media online sendiri memanfaatkan kemudahan media digital sehingga kini muncul banyak akun layaknya portal online. Terkadang juga di media sosial mereka membuat seolah-olah itu berita padahal entah itu benar atau tidak,” ungkapnya di webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Jumat (10/9/2021).
Tentu ini menjadi keprihatinan karena para produsen berita tidak memiliki dasar jurnalistik pastinya tidak paham kode etik dan sebagainya. Akhirnya informasi-informasi itu seringnya bersifat memihak karena mereka tidak mengerti istilah cover both side. Ditambah informasi yang disebarkan itu tidak berdasarkan fakta. Ahmad menambahkan. inilah yang terjadi, bagaimana berita-berita yang tidak terverifikasi banyak sekali tersebar di dunia maya.
“Biasanya cenderung berita yang heboh, untuk mencaritahu apakah ini benar atau tidak dapat dicek ke media online. Berita yang besar pastinya akan banyak di media masasa online,” jelasnya.
Maka, masyarakat harus sudah dapat melihat informasi ini fakta atau hoaks. Misalnya sebuah kejadian yang langka terjadi tapi juga mengajak untuk membagikan informasi ini, bahkan membawa agama, jika disebarkan akan mendapatkan pahala karena berisi nasihat.
Di media sosial juga, penyebar berita hoaks biasanya menggunakan akun-akun yang palsu dengan foto profil bukan foto asli hanya menggunakan gambar artis atau kartun, jarang memposting kehidupan pribadi dan kerap membagikan link berita dalam jarak waktu yang berdekatan.
Webinar juga menghadirkan pembicara Idul Futra (Owner Madam Liem), Aditianata (Dosen Universitas Esa Unggul), Dedy Helsyanto (Kordinator Program Mafindo), dan Ribka sebagai Key Opinion Leader.












