Berdasarkan survey Digital Civility Index (DCI) 2020 oleh Microsoft, netizen Indonesia menempati urutan terbawah se-Asia Tenggara dalam hal kesopanan di dunia digital. Tentunya hal ini sangat bertolak belakang dengan kesan orang Indonesia selama ini, yang terkenal dengan murah senyum dan keramahtamahannya.
“Orang Indonesia yang bermoral tinggi sangat menjunjung tinggi etika, sopan, ramah, senyum terus ya ngga? Tapi kenapa jari-jemarinya saat berkomentar kasar-kasar dan lebih parahnya lagi begitu diumumkan hal ini social medianya Microsoft langsung diserbu netizen. Ini seperti mengkonfirmasi netizen Indonesia kasar-kasar,” ujar Goretti Meiliani, Goretti Meiliani Project & Planning Section Head Binus Group saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada Kamis (16/9/2021).
Menurut Goretti, hal yang membuat pengguna internet di media sosial menjadi lupa mengenai etika adalah menganggap digital berbeda dengan kehidupan nyata dan satu arah. Padahal saat berinteraksi di ruang digital, yang diajak berkomunikasi tetaplah manusia yang bisa tersinggung dan marah sehingga sama seperti pertemuan biasa. Dengan menyadari keberadaan orang lain di media sosial, seharusnya pengguna bisa mengendalikan emosi dna tidak ikut-ikutan berkomentar buruk.
“Selalu ingat, tulisan adalah perwakilan diri kita. Jadi harus kendalikan emosi, tidak ikut-ikutan. Selalu menggunakan bahasa yang jelas tulisan kapital semua dan tanda seru itu artinya kita sedang marah. Kalau komentar kita juga jangan rancu, lihat konteks misalnya ada komedian lagi bercanda jangan ditanggapinya serius,” tuturnya lagi.
Selain itu saat berada di ruang digital, hargai privasi orang lain dan sadari posisi kita misalnya kepada orang yang lebih tua, guru, dan teman. Menerapkan sikap toleransi dan tidak menyinggung SARA karena sangat sensitif. Etika yang juga penting terkait memberikan informasi adalah saat menyebarkan konten, baik itu di What’sApp grup keluarga maupun media sosial. Selalu lihat data, fakta dan konfirmasi dulu kebenarannya jangan sampai ternyata yang kita bagikan adalah hoaks.
Webinar juga mengundang nara sumber seperti Aditya Nova Putra, Ketua Jurusan Hotel & Pariwisata IULI, Alda Dina, Bangun Guru SD Cahaya Bangsa Kota Baru Parahyangan, dan Eko Ariesta, Founder & CEO Enterpro.id.












