Nasionalisme di tengah arus digitalisasi dan arus globalisasi memang sangat memprihatinkan. Terlebih pada anak muda yang sudah jauh dari budaya Indonesia. Mereka seakan tidak terlihat bangga dengan budayanya sendiri. Mereka lebih lebih senang untuk membahas mengenai budaya orang lain.
Transformasi teknologi ini memang memiliki konsekuensi yang cenderung negatif untuk urusan budaya. Di era digital ini justru dianggap melunturkan budaya karena masyarakat semakin melek terhadap apa yang terjadi di luar Indonesia.
Diana Nafiah COO Halo Bayii menyebut, hanya dengan sekali klik, kita dapat mengetahui apa yang sedang terjadi, dan tren di dunia. Masyarakat jadi memiliki referensi yang banyak tentang apa yang terjadi. Mengenai apa yang mereka suka dan sebagainya. Internet ini membuat akses ke dunia semakin terbuka luas.
Keterbukaan itu memberikan pengaruh sehingga mencontoh apa yang ada di internet padahal sebenarnya tidak sesuai dengan budaya Indonesia.
“Jadi memang dampak dari perluasan internet yang begitu luas ini memberi dampak pada kita semua. Sebenarnya bukan hanya pada generasi muda. Mereka memang sudah terlihat adalah minus budaya bahkan istilahnya mereka tidak mengetahui apa yang menjadi miliknya yaitu kebudayaan Indonesia yang begitu kaya,” ungkapnya saat menjadi pembicara dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Senin (20/9/2021).
Misalnya, mereka sebagian besar tidak mengetahui dan tidak minat terhadap permainan dan kesenian tradisional. Disebabkan keterbatasan informasi dan juga mereka sibuk dengan gawai mereka.
Dilihat dari faktor kedekatan dengan keluarga pun semakin ada kesenggangan ada jarak antara keluarga Karena semua anggota keluarga tidak hanya anak dari orangtua juga mereka asik sibuk sendiri dengan gawainya
Jadi sebenarnya agar budaya Indonesia tetap dikenal di dalam negeri oleh generasi muda dan dipromosikan ke luar negeri apabila ada kesempatan Bagaimana menanggulanginya, sudah pasti dengan memanfaatkan digital itu sendiri.
“Bagaimana kita di media sosial bisa berbagi cerita mengenai kebudayaan kita sendiri. Misalnya kita mempunyai cerita dari orang tua, dari kakek nenek mengenai budaya kita. Bentuknya tulisan atau sekadar foto sederhana yang mengisahkan mengenai budaya itu sendiri.
Dari segi ekonomi di e-commerce kita dapat menjual produk Indonesia agar UMKM khususnya yang berkenaan dengan budaya Indonesia ini dapat laku dipasaran. Minimal kita yang membeli sendiri karena semakin banyak yang membeli tentu orang luar negeri juga akan tertarik melihatnya.
Di media sosial lain juga dapat menggunakan untuk event budaya yang disiarkan secara langsung secara live apapun bentuknya. Beriklan secara besar-besaran di negara orang juga dapat dilakukan.
“Biasanya dilakukan oleh para desainer kebaya desainer batik yang memang sudah mendunia. Mereka membawa batik-batik Indonesia di hadapan dunia dan tanggapannya juga luar biasa baik. Orang barat pun senang dengan batik kita jadi makanya mengapa kita apalagi anak generasi muda merasa tidak senang menggunakan batik,” tutupnya.
Webinar juga menghadirkan pembicara Aris S Ripandi (Pengurus RTIK Sukabumi), Littani Watimena (Brand& Communication strategist), Ismita Saputri (Founder Kainzen Room), dan Sari Hutagalung sebagai Key Opinion Leader.












