Bagaimana menjaga keamanan di ruang digital juga menjadi faktor penting yang harus diperhatikan oleh setiap pengguna digital. Jangan sampai teknologi informasi canggih ini yang dapat membantu kehidupan menjadi lebih mudah dan dan efektif, malah justru membahayakan diri kita.
Dimulai saat pertama kali kita ingin berselancar, membuka sebuah situs website, penting untuk melihat protokol URL yang digunakan halaman website. Internet protocol adalah seperangkat aturan yang mengatur aktivitas internet dan bisa memfasilitasi untuk penyelesaian berbagai tindakan di word wide web.
Saat kita ingin membuka sebuah website, coba lihat jika link website tersebut dimulai dengan https atau ada gambar gembok, itu menandakan website tersebut aman. Bagaimana browser memberikan data pada web server itu melalui transfer protocol? Protocol di teknologi informasi sangat banyak salah satu yang sering kita gunakan adalah https.
“Jika saya ilustrasikan http tanpa S atau tanpa gambar gembok ini akan membaca data kita apa adanya yang ditampilkan. Ini sangat diperlukan saat di e-commerce, kita mengirim data misalnya ingin mengirimkan nomor kartu kredit. Jika address bar http nanti data kita itu terbaca sama persis tanpa diacak. Tapi kalau menggunakan https nomor kartu kita ini akan dienkrip, atau diacak jadi siapapun bisa membaca nomor-nomor itu. Namun tidak jelas apakah itu nama nomor kartu kredit atau bukan,” jelas Didin Miftahudin Programmer dan Founder Gmath Pro saat mengisi webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (22/9/2021).
Maka saat kita browsing, yang harus dilihat adalah address bar http atau https. Https ini biasanya berbayar website yang sudah sewa domain, sewa address untuk membayar keamanannya.
Selanjutnya, masyarakat dapat cek ini tindakan phishing atau bukan atau juga saat kita sedang ingin melakukan pembayaran di sebuah website kita dapat mengecek website tersebut benar atau tidak. Melalui website wheregoes.com. masukkan website link yang ingin kita cek kemudian jika hasilnya langsung kepada website yang bersangkutan atau namanya sama berarti itu website asli atau benar.
Jika yang ditampilkan itu hasilnya link website yang lain itu website yang kita cek itu bukan yang sebenarnya. Agar aman juga, Didin, menyarankan untuk menggunakan VPN (Virtual Private Network) memungkinkan penggunanya tersambung ke layanan internet secara pribadi. Dia mengatakan, layaknya jalan tol untuk jaringan pribadi.
“Hanya saja penggunaan VPN ini banyak sekali produk-produk yang mengelabui juga dia hanya sebagai spam. Seolah-olah memberikan keamanan ternyata malah mengambil data pribadi kita. Tapi di Indonesia ini memang paling tertinggi di dunia yang men-download VPN ini mungkin karena ingin melihat website yang proteksinya lebih tinggi atau terlarang oleh pemerintah Indonesia,” jelasnya.
Keamanan lainnya yang dapat dilakukan yaitu mengaktifkan two factor authentication (2FA) ada di WhatsApp, aplikasi e-commerce, email, media sosial. Jadi saat kita biasa mengakses itu semua menggunakan laptop atau handphone lalu tiba-tiba ada yang ingin masuk ke akun kita nanti akan ada notifikasinya. Nanti akan ada pertanyaan, perangkat digital apa yang biasa digunakan, merk dan jenis atau tipenya.
Jika tiba-tiba ada notifikasi seperti itu lalu bukan kita yang ingin membuka akun kita di perangkat yang lain. Kita harus segera memverifikasi akun kita kemudian melihat apakah sudah berhasil dijebol atau tidak selalu kita mengganti password. Itulah gunanya 2FA jadi untuk masuk ke akun harus menggunakan dua langkah.
Webinar juga menghadirkan pembicara Bowo Suhardjo (konsultan bisnis), Litani Wattimena (brand &communication strategist), I Gede Putu Krisna Juliharta (Ketua RTIK Bali), dan Rio Silaen sebagai Key Opinion Leader












