Dampak perubahan revolusi industri pada era society 5.0 dimulai ketika Jepang mengalami tantangan berkurangnya populasi penduduk yang produktif. Akhirnya, perdana menteri Jepang menyiapkan konsep industri 5.0 yang akan berpusat pada manusia dan berbasis teknologi. Karena perkembangan teknologi begitu pesat salah satu produk yang diprediksi akan muncul yaitu robot.
Dengan kecerdasannya dianggap mampu menggantikan peran manusia dalam beberapa aspek kehidupan. Jika berkaitan dengan budaya sebenarnya ada efek dari 5.0 yang ada beberapa perbedaan konsep dari industri 4.0 dan society 5.0.
Santia Dewi Owner @limbackstore dan @grosirkaosdistrotanahabang berkomentar, pada industri 4.0 manusia menganalisis data dan informasi juga mengakses layanan melalui internet. Sedangkan pada society 5.0 sebagian informasi dari sensor di ruang fisik ruang maya dan dianalisis oleh kecerdasan buatan kemudian hasilnya dikembalikan lagi ke manusia dalam berbagai bentuk.
Dalam revolusi ini membuka kesempatan baru dalam masyarakat untuk berinovasi. Pada society 5.0 ada beberapa kemampuan yang sangat dibutuhkan antara lain kemampuan kognitif yaitu kemampuan memecahkan masalah yang kompleks dan pola pikir secara kritis.
Ada juga kemampuan soft skill yakni kemampuan berkomunikasi, informatif terakhir adalah kemampuan teknologi itu sendiri makanya itu masyarakat harus melek teknologi. Seiring dengan perkembangan zaman bukan hanya teknologi saja yang berevolusi tetapi kemampuan manusia yang dibutuhkan juga semakin meningkat di balik keadaan sekarang ini yang serba canggih dan digital.
“Unsur identitas dan budaya ternyata masih tetap bisa kita bina dan lestarikan contohnya adalah platform untuk menggalang dana dan donasi secara online seperti kitabisa.com. Aplikasi ini menjadi jembatan bagi masyarakat untuk gotong royong mengumpulkan dana,” jelas Santia saat menjadi pembicara dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Jumat (24/9/2021).
Cara kerjanya, siapapun dari kita bisa mendaftar mengumpulkan dana untuk segala kegiatan kemanusiaan seperti membantu korban bencana alam, memberi dana kepada warga tidak mampu yang sedang sakit. Mereka dari tim kitabisa.com akan mengkurasi, mengecek apakah bantuan yang diajukan ini benar atau tidak.
Didirikan oleh seorang anak muda bernama Al Fatih Timur, dia membuat kitabisa.com ini karena selalu mengingat apa yang diajarkan oleh sang ayah untuk berbagi, berbuat sosial.
“Jadi bisa kita lihat bahwa nilai-nilai dalam keluarga menjadi sebuah budaya dalam diri anak. Mereka menyerap apa yang diajarkan oleh orang tua. Dia mampu menemukan sebuah niat baik yang dipadupadankan dengan teknologi terbentuklah kitabisa.com,” tambahnya.
Jadi, budaya sedari dulu sewaktu anak-anak yang selalu diajarkan oleh orang tua mengenai berbuat baik melakukan gotong royong. Ternyata masih sangat relevan dilakukan di era yang serba canggih ini.
Webinar juga menghadirkan pembicara Bambang Iman Santoso (CEO Neuronesia Learning Center), Theo Derick (CEO Coffee Meet Stock), Oman Komarudin (Ketua RTIK Karawang), dan Ida Rhynjsburger sebagai Key Opinion Leader.












