Pandemi Covid-19 telah mengubah kebiasaan masyarakat dunia menjadi lebih harus memanfaatkan teknologi untuk bertahan dan selamat dari krisis. Adaptasi dari individu agar bisa bertahan ini memerlukan penguasaan akan teknologi, tak hanya sekadar itu namun meliputi memproses dan kritis terhadap informasi yang beredar.
“Kita terlalu banyak menerima informasi di saat yang bersamaan. Dalam hal inilah literasi digital berperan untuk mencari, menemukan, memilah serta memahami informasi yang benar dan tepat,” ujar Tuahta H. Pinem Instruktur Edukasi4ID saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I, pada Kamis (23/9/2021).
Sebab menurutnya konten negatif juga menjdi salah satu tantangan era literasi digital, contohnya seperti potnografi, isu SARA, cyberbullying dan lainnya. Apalagi karena Indonesia multikultural, maka masyarakatnya harus memahami literasi digital. Adapun penerapan literasi digital dapat dilakukan di lingkungan sekolah, maupun di rumah. Seperti komunikasi antara guru, murid dan teman sekolah menggunakan What’sApp dan media sosial lainnya. Murid kini mengirimkan tugas sekolah melalui email, pembelajaran tatap muka digantikan dengan online, dan mencari bahan ajar juga bisa melalui internet.
Kini memasak pun para ibu di rumah menemukan resepnya melalui internet atau video tutorial memasak di YouTube. Sementara dalam kehidupan bermasyarakat bahkan penggalangan dana atau donasi dilakukan melalui media internet. Termasuk menyebarkan informasi melalui group obrolan dan media sosial.
Di webinar ini, Hadir pula nara sumber seperti Cahyono Kuntorojati, Guru Matematika SMPN 2 Sukamakmur, Rosmala, Guru SMAN 1 Sukamakmur, dan Anna Agustin, Managing Partner di Indonesia Global Lawfirm.












