Tanpa disadari, sekarang ini banyak dari kita ketika bangun tidur langsung membuka gadget atau malah begadang karena sibuk scrolling media sosial. Perlu diwaspadai, perilaku tersebut merupakan salah satu tanda kecanduan internet.
Menurut Ridho Wibowo, Instruktur Virtual Coordinator Training Jawa Barat, gejala kecanduan itu dapat berdampak pada emosional dan fisik. Pengaruh pada emosional kita, yakni euforia berlebih saat menggunakan internet, depresi, senang menyendiri, tidak memiliki kemampuan untuk memprioritaskan sesuatu, mengisolasi diri, dan sering menunda pekerjaan.
Di samping itu, pengaruhnya pada fisik ialah sakit punggung, leher, atau kepala, mata mudah kering, obesitas, insomnia, dan adanya masalah pada pengelihatan.
“Selain manfaatnya, banyak hal-hal negatif juga didapatkan dari internet kalau penggunanya tidak menggunakan dengan sehat dan aman,” ujar Ridho dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kota Depok, Jawa Barat, Jumat (1/10/2021).
Manfaatnya, internet digunakan untuk mencari informasi, sarana hiburan, media pembelajaran interaktif, membuat karya, dan lainnya. Negatifnya, internet memiliki banyak konten negatif, ujaran kebencian, hoaks, penipuan, kecanduan, dan lain sebagainya.
Dengan demikian, untuk mencegah konten negatif dan kecanduan pada internet, kita bisa memanfaatkan internet dengan menjadikannya sebagai wadah meningkatkan produktivitas.
Ridho menyampaikan, beberapa aktivitas yang dapat dilakukan pengguna pada masing-masing platform digital agar tetap produktif. Pertama, pada platform Instagram, pengguna dapat memperbanyak followers sekaligus menjadi influencer, berjualan produk/jasa secara online, mengikuti lomba atau mencari sponsor.
Kedua, pada platform Tiktok, pengguna dapat memanfaatkannya untuk membuat konten kreatif, membangun personal branding, membuat musik, menjadi konsultan tiktok, bercerita/berbagi pengalaman, hingga berbagi tutorial atau materi pembelajaran.
Ketiga, produktivitas di platform Youtube yakni membuat video yang menarik, rutin mengunggah video, dan memonetisasi dengan minimal 1.000 subsriber.
“Di antara semua kegiatan, harus diingat bahwa buatlah konten yang nyaman bagi kita. Jangan hanya mengikuti tren tetapi kita tidak merasa nyaman karena nantinya tidak akan berkelanjutan. Lebih mudah memilik konten yang sesuai dengan kesukaan atau hobi kita,” tuturnya.
Webinar juga menghadirkan pembicara, Retno Santy Ariestuti (Wakabid Kesiswaan SMA Negeri 13 Depok), Verra Rousmawati (Instruktur Edukasi4ID), Ana Agustin (Managing Partner di Indonesia Global Lawfirm), dan Yudho Boengkoes (Key Opinion Leader).












