Minat baca Indonesia yang rendah atau tingkat literasi yang rendah disebut-sebut sebagai penyebab menyebarnya hoaks di ruang digital. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama pemerintah, pegiat literasi, para pendidik bagaimana meningkatkan literasi di masyarakat. Karena tingkat literasi yang rendah kita akan mudah terserang disinformasi, malinformasi dan juga misinformasi atau hoaks.
Menurut survei Masyarakat Telekomunikasi isi dari hoaks lebih banyak mengenai sosial politik, pemerintahan, kesehatan itulah isu-isu yang paling sering diterima oleh masyarakat Indonesia. Al Akbar Rahmadillah Founder Sobat Cyber Indonesia mengatakan, alasan menerima atau meneruskan informasi tersebut karena netizen Indonesia ini mereka percaya karena berasal dari orang yang mereka percaya.
“Padahal tidak seperti itu, siapapun orang yang memberikan informasi kepada kita harus dicek dulu kebenarannya,” ungkapnya saat menjadi pembicara dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Selasa (05/10/2021).
Saluran penyebaran hoaks itu paling tinggi media sosial dan aplikasi chatting. Akbar mengatakan, sebenarnya kita harus memastikan dan dapat membedakan antara media sosial dan media aplikasi chatting. Media sosial adalah public communication sementara aplikasi chatting adalah private communication.
“Kedua ini tetap harus beretika dengan baik, bagaimana dengan banyak orang jangan sampai menyebar hoaks, begitu juga di ruang privat jangan sampai kita menyebarkan informasi salah. Berkomunikasi dengan sopan juga dilakukan pada kedua media itu baik di banyak orang yang melihat maupun hanya satu orang yang melihat,” jelasnya.
Saat di media sosial kita harus menjaga privasi tidak sembarangan mengunggah identitas diri, jaga keamanan digital dan menggunakan seperlunya. Saat di media chatting pun karena pesan dilakukan secara personal jangan lupa untuk mengenalkan diri saat pertama kali chatting. Karena ini percakapan pribadi hendaknya tidak dibagikan ke publik.
Webinar juga menghadirkan pembicara, Febriyanti Kristiani (Owner @vitaminmonster), Dian Nurawaliah (Founder Maleeha Skincare), Didno (Ketua RTIK Indramayu), dan Winda Ribka sebagai Key Opinion Leader.












