Ketika kita sudah tidak sanggup lagi beretika yang baik di dunia digital. Artinya kita sudah meruntuhkan citra baik yang selama ini mungkin bertahun-tahun. Kemungkinan dapat hancur dalam waktu hitungan menit saja.
Indra Ilham Riady, pakar marketing digital mengatakan hal tersebut saat menjadi pembicara dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat (08/10/2021).
Sebab di dunia digital ada jejak yang tidak dapat dihapus atau dihilangkan. Dapat dibuka beberapa tahun mendatang. “Jejak digital ini yang mungkin saja dapat menentukan apa yang selama ini sudah kita bangun. Jadi gunakan media sosial ini sebagai CV dan yang sebaiknya kita lakukan di media digital ialah kita harus menjadi sosok yang proaktif bukan reaktif,” jelasnya.
Ketika ada orang yang mempublikasikan sesuatu mengenai hal yang sensitif karena kita orang yang pro aktif kita hanya dapat merespon seadanya. Mengkritisi apakah berita ini benar, darimana sumbernya hanya sebatas itu. Bukan ikut tersulit emosi dan sangat reaktif. Kemudian, membangun citra diri positif dengan jangan sembarangan mem-posting konten.
“Tidak perlu kita membuang waktu hanya untuk satu hal yang buruk atau bahkan bisa merugikan orang lain,” sambungnya.
Selanjutnya kita harus menjaga privasi diri kita sendiri demi keamanan digital kita. Ini tentu tidak kalah penting karena privasi ini menyangkut data diri, permasalahan diri hingga urusan nama baik keluarganya yang harus kita jaga.
Seseorang harus sopan di ruang digital jangan arogan, harus tahu bagaimana caranya menjaga nada bicara kita. Nada bicara yang dimaksud yaitu kita harus membuat konten yang informatif. Jika tidak berguna tidak perlu di-posting. Buang waktu dan sudah seperti memupuk kerusakan reputasi kita sendiri.
“Jadilah orang yang ramah, kalau ada yang berkomentar pada konten kita sekalipun negatif. Sebisa mungkin membalasnya dengan positif jangan sampai ada perselisihan,” tuturnya.
Nada bicara yang ketiga ialah interaktif, kita membuat konten itu juga harus meminta pendapat dari para audien atau pengikut kita. Buatlah sebuah konten yang memancing interaksi kata-kata yang menarik orang untuk berkomentar, untuk menyukai konten kita hingga dapat membagikan.
Terakhir, persuasif untuk menjual produk atau brand bahasa yang digunakan harus persuasif agar audiens tertarik untuk berlangganan kata-kata. Misalnya yuk atau kata lain seperti mengajak untuk melakukan sesuatu.
Webinar juga menghadirkan pembicara, Al Akbar Rahmadillah (Founder Sobat Cyber Indonesia), Satria Andika (Relawan TIK), Chiara Chaisman (Analyst Merchandiser), dan Ribka sebagai Key Opinion Leader.












