Revolusi digital ini menyadarkan kita bahwa manusia sangat tergantung pada teknologi yang merupakan produk ciptaannya sendiri. Revolusi besar itu sedang melanda kehidupan manusia hingga mencapai puncaknya pada revolusi industri 4.0. Setidaknya kita telah terhubung dengan sesama manusia di jagat virtual hanya dengan menggunakan sebuah perangkat digital.
Ruang digital menjadi tempat pertemuan baru untuk melakukan kolaborasi meski tanpa kehadiran fisik. Kehadiran smartphone telah mengubah kehidupan kita hanya sebatas genggaman.
Didi Sukardi, Ketua jurusan hukum ekonomi syariah IAIN syekh Nurjati Cirebon memaparkan, kedigdayaan jaringan internet telah melenyapkan batas-batasan geografis ataupun fisik pada suatu negara sudah tidak nampak lagi. Pada revolusi industri 4.0 menjadi aksesbilitas semakin cepat berkat komputasi dan dengan internet di segala alat atau Internet of Thing (IoT).
Berkat itu masyarakat kini sudah berbudaya digital dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Tidak perlu lagi menjelaskan apa kelebihan dari budaya digital.
“Kekurangan budaya digital yang harus diperhatikan yakni bagaimana banyak pemikiran-pemikiran baru yang mungkin saja dihembuskan di ruang digital yang sangat luas ini. Adanya doktrin-doktrin untuk generasi muda untuk mendukung ideologi mereka untuk turut mengikuti aksi teror,” ungkapnya saat menjadi pembicara dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Rabu (13/10/2021).
Kekhasan radikalisme agama ini gerakannya dihayati sebagai kewajiban agama melawannya berarti melawan agama. Ketaatan pada pemimpin dihayati sebagai ketaatan pada Tuhan melawannya berarti melawan Tuhan. Ideologi radikalisme agama dihayati sebagai kebenaran tunggal agama Sehingga tafsir agama yang berbeda dipandang sebagai kesesatan.
Selama Covid-19 yang merupakan ancaman keamanan dan ketertiban dunia. Tidak serta merta menghilangkan terorisme ini justru menghadirkan tantangan baru. “Saat ini kita menyaksikan gejala-gejala sosial dan politik yang semakin berhimpitan, silang sengkarut dengan gejala etnik keagamaan, situasi mana yang membuat publik dan akademik bertanya-tanya apa dan bagaimana menjelaskannya,” tuturnya.
Meledaknya aksi aksi radikalisme dan ekstrimisme atas nama agama, ini kembali menguasai konsep konservatisme sehingga bangkitnya populisme dan politik identitas. Hal ini telah mewarnai kehidupan kontemporer yang semakin mengglobal. Masifnya interaksi digital antara warga dan telah menciptakan dualisme dunia nyata dan dunia maya. Sehingga sulit mengenali dengan baik batas-batas yang tegas antara wacana di dunia maya dan realitas sosial nyata.
Webinar juga menghadirkan pembicara, Indra Surya Permana (Dosen Universitas Nahdatul Ulama Cirebon), Erri Ginandjar (GA Director Oz Radio Bali), Aries Saefullh (relawan TIK Indonesia) dan Rio Silaen sebagai Key Opinion Leader.












