Presiden Prabowo Subianto secara resmi mengumumkan berdirinya Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) pada Senin (24/2/2025). Lembaga ini diproyeksikan menjadi faktor kunci dalam pengelolaan aset negara secara lebih efisien dan modern.
Anthony Leong, Wakil Sekretaris Jenderal BPP Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), menyambut baik kehadiran Danantara. Ia menilai bahwa langkah ini akan membawa perubahan besar bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan penerapan sistem manajemen yang lebih profesional dan inovatif.
“Dukungan penuh dari pemerintah dan antusiasme investor global menjadikan Danantara sebagai fondasi baru dalam reformasi pengelolaan BUMN,” ujar Anthony dalam pernyataannya di Jakarta, Senin (24/2/2025).
Menurutnya, konsep Danantara mirip dengan model investasi yang telah sukses diterapkan di negara lain, seperti Khazanah di Malaysia dan Temasek di Singapura. Dengan perencanaan yang matang, diharapkan lembaga ini mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional melalui investasi di sektor strategis seperti energi hijau, kecerdasan buatan (AI), dan riset genomik.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya peran sumber daya manusia (SDM) berkualitas dalam pengelolaan Danantara. Keberhasilan lembaga ini akan sangat bergantung pada kepemimpinan yang visioner serta strategi yang jelas dan terarah.
“Temasek telah menunjukkan bahwa kombinasi antara kepemimpinan yang kuat dan pengelolaan profesional dapat membawa hasil luar biasa. Jika Indonesia bisa mengadopsi pendekatan serupa, Danantara bisa menjadi motor penggerak utama bagi ekonomi nasional,” tambahnya.
Danantara dirancang untuk mengelola aset senilai 900 miliar dolar AS atau sekitar Rp14.715 triliun. Kehadirannya diharapkan mampu menarik investasi berkelanjutan dan memperkuat posisi Indonesia dalam lanskap investasi global.