Raksasa apparel asal Jerman, Adidas, kembali menyoroti kebijakan tarif yang tengah digodok oleh Amerika Serikat. CEO Adidas, Bjorn Gulden, memperingatkan bahwa langkah ini bisa mengganggu kestabilan bisnis global serta menekan daya beli masyarakat akibat lonjakan harga komoditas.
Menurut Gulden, jika kebijakan tarif sebesar 25% benar-benar diberlakukan dan meluas ke lebih banyak negara, dampaknya bisa sangat besar. “Inflasi akan meroket, sementara volume penjualan akan mengalami penurunan drastis,” ujarnya, dikutip dari Reuters pada Kamis (6/3).
Meski Adidas belum menghitung dampak spesifik dari ancaman tarif tersebut, perusahaan tengah bersiap menghadapi potensi efek negatifnya, terutama jika kebijakan ini menyasar negara-negara manufaktur utama seperti Vietnam, China, dan Indonesia. “Kami tahu ini akan terjadi, tetapi seberapa besar pengaruhnya? Kami belum bisa memberikan angka pasti. Namun, satu hal yang jelas: kami harus beradaptasi dengan cepat,” tambah Gulden.
Amerika Serikat saat ini sedang mempertimbangkan kebijakan tarif tambahan terhadap sejumlah negara. Jika Vietnam dan Indonesia juga terkena dampaknya, maka bisnis Adidas bisa ikut terguncang. Hal ini karena Vietnam menyumbang 27% dari total produksi Adidas, sementara Indonesia berkontribusi 19%, dan China sebesar 16%.
Gulden sendiri cukup optimistis bahwa tarif terhadap produk Adidas yang dibuat di China tidak akan terlalu memukul perusahaan. Pasalnya, sebagian besar produksi dari negara tersebut memang tidak ditujukan untuk pasar Amerika Serikat.
Dengan ketidakpastian global yang meningkat, Adidas harus bergerak cepat dalam menyusun strategi mitigasi risiko. Ancaman kebijakan tarif ini bukan hanya berdampak pada perusahaan, tetapi juga berpotensi mengubah peta perdagangan global di industri apparel dan manufaktur.