Kementerian Keuangan mencatat penerimaan pajak pada Mei 2025 mencapai Rp683,3 triliun, mengalami penurunan 10,13 persen secara tahunan dibandingkan Rp760,4 triliun pada Mei 2024. Namun, angka tersebut merupakan penerimaan pajak secara neto, yang menurut pemerintah tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi terkini.
Wakil Menteri Keuangan Anggito Abimanyu menjelaskan bahwa data neto merupakan hasil pengurangan antara bruto dengan restitusi yang wajib dibayarkan pada waktu jatuh tempo. Oleh karena itu, ia menilai data neto kurang tepat dijadikan indikator utama untuk membaca arah perekonomian saat ini.
Dalam rincian laporan, hampir semua sumber penerimaan pajak neto menunjukkan kontraksi. Penerimaan PPh non-migas turun 5,4 persen (yoy) menjadi Rp420 triliun, sementara PPN dan PPnBM tercatat turun cukup dalam sebesar 15,7 persen menjadi Rp237,9 triliun.
Sebaliknya, PBB dan jenis pajak lainnya mencatatkan pertumbuhan tipis sebesar 0,8 persen (yoy) dengan nilai realisasi Rp5,04 triliun. Sementara itu, penerimaan pajak secara bruto sebenarnya mencapai Rp895,8 triliun, lebih tinggi Rp212,5 triliun dari angka neto.
Anggito menyebut bahwa secara bruto, penerimaan pajak dari seluruh sektor masih tumbuh. PPh non-migas secara bruto naik 1 persen menjadi Rp479,9 triliun, PPN dan PPnBM tumbuh 0,8 persen dengan total Rp390,29 triliun, serta PBB dan pajak lainnya meningkat 2 persen menjadi Rp5,16 triliun.
Secara total, pendapatan negara hingga akhir Mei 2025 mencapai Rp995,3 triliun atau 33,1 persen dari target APBN sebesar Rp3.005,1 triliun. Jumlah ini naik Rp184,8 triliun dibandingkan bulan sebelumnya. Penerimaan perpajakan menyumbang Rp806,2 triliun, terdiri dari pajak Rp683,3 triliun dan kepabeanan serta cukai Rp122,9 triliun.
Selain itu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) tercatat sebesar Rp188,7 triliun atau 36,7 persen dari target. Sementara itu, belanja negara hingga akhir Mei terserap sebesar Rp1.016,3 triliun, yang berkontribusi terhadap defisit APBN sebesar Rp21 triliun atau 0,09 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Meskipun penerimaan pajak neto mengalami penurunan, pemerintah tetap optimistis terhadap performa fiskal nasional. Fokus saat ini adalah memastikan restitusi berjalan lancar sembari menjaga pertumbuhan penerimaan bruto dan efisiensi belanja negara.