Optimisme indeks harga saham gabungan (IHSG) menembus level 10.000 pada tahun ini dinilai tetap memerlukan dukungan fundamental ekonomi nasional yang solid serta penguatan peran investor domestik. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai target tersebut bukan hal yang mustahil jika prasyarat utama tersebut terpenuhi.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, mengatakan pencapaian IHSG di level tinggi harus berbasis kekuatan ekonomi yang berkelanjutan. “Bilamana fundamental ekonomi Indonesia solid dan peran investor domestik meningkat, level tersebut bukan tidak mungkin tercapai,” ujarnya di Jakarta.
Inarno menekankan bahwa pergerakan IHSG tidak hanya ditentukan oleh kinerja fundamental emiten, tetapi juga dipengaruhi berbagai faktor domestik dan global. Karena itu, ia mengingatkan investor untuk tetap waspada dan menerapkan manajemen risiko yang baik dalam setiap keputusan investasi.
Dari sisi regulator, OJK memastikan pasar modal berjalan secara teratur, wajar, dan efisien. OJK juga mendorong terbentuknya ekosistem pasar modal yang sehat dan berintegritas agar pertumbuhan indeks maupun instrumen lain bersifat berkelanjutan, bukan sekadar didorong momentum jangka pendek.
Pada 2026, sejumlah kebijakan pasar saham menjadi perhatian, termasuk peningkatan kualitas emiten melalui penyesuaian aturan batas free float serta penguatan peran investor institusi, baik domestik maupun global. Menurut Inarno, kebijakan free float merupakan bagian dari pendalaman pasar jangka panjang sehingga membutuhkan kajian matang dan pelibatan seluruh pemangku kepentingan.
Saat ini, OJK bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah mengevaluasi dan menyempurnakan kebijakan free float secara komprehensif. Evaluasi tersebut mencakup aspek likuiditas, perlindungan investor, minat pasar, besaran kapitalisasi, daya serap pasar, masa transisi, serta menjaga minat perusahaan domestik untuk melantai di bursa.
“Dengan memperhatikan kondisi dan dinamika pasar, kebijakan free float ini rencananya diterbitkan pada 2026 secara bertahap,” kata Inarno. Kebijakan tersebut diharapkan memperkuat struktur pasar modal dalam jangka panjang.
Sebagai catatan, pasar modal Indonesia menutup 2025 dengan kinerja solid. IHSG berakhir di level 8.646,94 pada 30 Desember 2025, naik 1,62% secara bulanan dan 22,13% secara tahunan, dengan 24 kali mencetak rekor tertinggi sepanjang tahun. Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menyatakan IHSG berpotensi melanjutkan tren penguatan pada 2026 setelah menembus level 9.000,54 pada perdagangan 8 Januari.












