Optimisme indeks harga saham gabungan (IHSG) mencetak rekor baru hingga menembus level 10.000 pada 2026 turut diamini pelaku pasar global. PT Bank HSBC Indonesia melalui HSBC Global Research menilai pasar saham Indonesia masih menyimpan potensi kenaikan yang signifikan di tengah dinamika ekonomi global.
HSBC memproyeksikan IHSG berpeluang mencapai level 9.700 pada tahun ini dari posisi saat ini di kisaran 8.600. “Kami tetap optimis terhadap pasar saham global, khususnya pasar saham negara berkembang,” ujar Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Global Research, Herald van der Linde, di Jakarta.
Menurut Herald, terdapat tiga faktor utama yang menopang pandangan positif tersebut, yakni tren penurunan suku bunga, dukungan stimulus fiskal di berbagai negara, serta peluang kejutan positif dari sisi kinerja laba perusahaan. Meski ruang penurunan suku bunga global terbatas, kebijakan fiskal di Amerika Serikat, Eropa, Jepang, dan China dinilai masih cukup ekspansif.
Selain itu, insentif pajak di Amerika Serikat untuk mendorong investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) turut memacu belanja modal. Dari sisi kinerja korporasi, ekspektasi laba perusahaan, khususnya di AS, dinilai relatif rendah, sehingga membuka peluang terjadinya kejutan positif saat musim laporan keuangan.
Dalam konteks regional, Herald menilai pasar saham negara berkembang menawarkan valuasi yang lebih menarik dibandingkan pasar Amerika Serikat. Negara berkembang juga berpotensi diuntungkan oleh pelemahan dolar AS serta rantai pertumbuhan AI yang banyak digerakkan dari kawasan Asia.
Khusus Indonesia, HSBC menilai kondisi pasar saat ini sangat menarik. Eksposur investor asing terhadap saham Indonesia masih relatif rendah, sementara valuasi saham berada di level yang sangat murah secara historis. “Banyak bank dan perusahaan konsumer yang harganya sangat murah, bahkan mendekati level terendah dalam 15 hingga 20 tahun terakhir,” ujar Herald.
Ia menambahkan, Indonesia menawarkan kombinasi pemulihan siklus pertumbuhan dan pendapatan dengan valuasi rendah, di saat investor global mencari eksposur yang lebih baik ke pasar negara berkembang. Dengan prospek pemulihan ekonomi, HSBC memandang Indonesia sebagai salah satu pasar unggulan di emerging markets tahun ini.
Meski demikian, Herald mengingatkan sejumlah risiko yang perlu dicermati, termasuk volatilitas nilai tukar dan dinamika arus dana global. Namun, ia menegaskan bahwa selama tren pemulihan laba berlanjut, prospek pasar saham Indonesia tetap positif dengan potensi kenaikan yang solid.












