PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat emisi obligasi dan sukuk korporasi sepanjang tahun berjalan 2026 mencapai Rp15,71 triliun. Capaian ini menunjukkan aktivitas pendanaan melalui pasar modal tetap aktif di tengah dinamika ekonomi.
Secara kumulatif, total obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI mencapai 672 emisi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp549,76 triliun dan US$134,01 juta, yang diterbitkan oleh 133 emiten. Selain itu, Surat Berharga Negara (SBN) yang tercatat berjumlah 190 seri dengan nilai nominal Rp6.674,24 triliun dan US$352,10 juta. BEI juga mencatat tujuh emisi Efek Beragun Aset (EBA) senilai Rp3,69 triliun.
Di sisi lain, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mengungkapkan telah mengantongi mandat penerbitan obligasi korporasi senilai Rp71,35 triliun per Januari 2026. Mayoritas mandat tersebut berasal dari perusahaan swasta non-BUMN.
Kepala Divisi Riset Pefindo Suhindarto menyebut sedikitnya 43 perusahaan masuk dalam daftar rencana penerbitan obligasi. “Kami menerima mandat dari 43 perusahaan,” ujarnya.
Sektor multifinance menjadi kontributor terbesar dengan tujuh perusahaan dan total nilai penerbitan Rp17,65 triliun. Disusul industri pulp dan kertas dengan tiga perusahaan senilai Rp8,9 triliun.
Sektor perbankan juga tercatat dalam pipeline dengan nilai penerbitan Rp7,71 triliun, kemudian perusahaan induk Rp6,05 triliun, serta sektor kimia sebesar Rp4,50 triliun. Data ini menunjukkan diversifikasi sektor dalam rencana penghimpunan dana melalui surat utang.
Berdasarkan jenis instrumen, Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) obligasi mendominasi dengan nilai Rp47,45 triliun, sedangkan PUB sukuk mencapai Rp14,15 triliun. Besarnya pipeline tersebut mencerminkan potensi pertumbuhan pasar surat utang korporasi sepanjang 2026.











