Iran dinilai mengeksploitasi celah pertahanan di kawasan Teluk dengan meningkatkan serangan drone jarak jauh di tengah perang melawan Amerika Serikat dan Israel. Lembaga think tank Institute for the Study of War (ISW) dan Critical Threats Project dari American Enterprise Institute mencatat perbedaan pola serangan Teheran. “Iran menggunakan rudal balistik untuk menyerang Israel, namun mengandalkan drone untuk menyerang negara-negara Teluk,” tulis laporan tersebut.
Militer Israel melaporkan menerima lebih dari 50 drone yang diluncurkan Iran pada Minggu (1/3/2026) malam. Sebaliknya, negara-negara Teluk menghadapi serangan jauh lebih masif, yakni lebih dari 1.000 drone, mayoritas jenis kamikaze Shahed-136. Serangan itu memperluas eskalasi konflik ke infrastruktur vital kawasan.
Uni Emirat Arab melaporkan lebih dari 800 drone dan hampir 200 rudal menghantam wilayahnya sejak perang pecah. Target mencakup pangkalan militer Perancis dan hotel mewah. Di Arab Saudi, dua drone menyerang Kedutaan Besar AS pada Selasa (3/3/2026), sementara kilang minyak Ras Tanura di pesisir Teluk mengalami gangguan operasional akibat serangan. Bahrain, Kuwait, Qatar, Oman, dan Yordania juga dilaporkan menjadi sasaran.
Peneliti senior Carnegie Endowment for International Peace, Steve Feldstein, menilai penggunaan drone murah merupakan strategi efektif untuk membebani musuh secara finansial. “Drone seharga puluhan ribu dolar ini membebankan biaya besar pada lawan,” ujarnya. Sumber industri pertahanan Eropa menyebut Shahed-136 dirancang untuk perang attrisi, karena biayanya jauh lebih rendah dibandingkan rudal pencegat yang digunakan untuk menembaknya.
Sistem pertahanan udara negara Teluk dinilai belum dirancang menghadapi ancaman drone massal. Meski tidak selalu menggunakan rudal Patriot, negara-negara tersebut mengandalkan sistem NASAMS, Avenger, atau Coyote milik UEA yang harga rudalnya mencapai ratusan ribu dolar per unit. “Pelajaran dari Ukraina belum dipelajari, terutama oleh Amerika,” kata sumber tersebut, seraya menambahkan kemampuan jamming di kawasan masih lemah.
Camille Lons dari European Council on Foreign Relations menilai serangan ke negara tetangga bertujuan menciptakan tekanan politik tidak langsung terhadap Washington. “Iran ingin meningkatkan tekanan agar negara-negara ini mendesak AS menghentikan serangannya,” ujarnya. Ia menilai negara Teluk memiliki daya tahan lebih rendah terhadap tekanan militer dibandingkan Israel.
Namun, Seth Jones dari CSIS memperingatkan strategi tersebut berpotensi menjadi bumerang. “Beberapa negara Teluk bisa lebih terlibat, termasuk memberi informasi atau mengizinkan wilayahnya dipakai untuk serangan ofensif,” katanya. Menanggapi situasi ini, Washington mengerahkan pesawat serang A-10 untuk melumpuhkan drone, sementara Ukraina menyatakan siap berbagi pengalaman menghadapi teknologi drone Iran.












