PT Golden Energy Mines Tbk. (GEMS) membukukan pendapatan usaha sebesar US$2,41 miliar sepanjang 2025, turun 10,77% dibandingkan realisasi 2024 yang mencapai US$2,7 miliar. Perseroan menyampaikan capaian tersebut dalam laporan keuangan yang dirilis di Jakarta. Penurunan pendapatan terjadi di tengah perubahan kontribusi pasar dan tekanan pada permintaan ekspor batu bara.
Emiten tambang batu bara Grup Sinar Mas ini mencatat penjualan luar negeri sebesar US$855,2 juta, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Sebaliknya, penjualan domestik meningkat signifikan menjadi US$1,55 miliar dari US$931,13 juta pada 2024. Berdasarkan komposisi pelanggan, GEMS meraih pendapatan US$2,38 miliar dari pihak ketiga dan US$33,9 juta dari pihak berelasi.
Di sisi profitabilitas, beban pokok pendapatan naik 2,62% menjadi US$1,64 miliar dari US$1,6 miliar pada 2024. Kenaikan beban tersebut menekan laba kotor yang turun 30,18% menjadi US$771,24 juta, dibandingkan US$1,1 miliar pada tahun sebelumnya. Tekanan berlanjut hingga ke laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk, yang merosot 43,39% menjadi US$268,23 juta dari US$473,8 juta secara tahunan.
Hingga akhir Desember 2025, total aset GEMS tercatat sebesar US$1,19 miliar, menurun dari posisi akhir 2024 sebesar US$1,23 miliar. Meski kinerja keuangan melemah, analis pasar modal menilai perseroan masih memiliki peluang menjaga performa pada 2026, meski dibayangi tren penurunan permintaan ekspor batu bara.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menyatakan, “Prospek kinerja GEMS pada 2026 masih cukup solid.” Namun, ia mengingatkan tren pelemahan ekspor batu bara tetap menjadi ancaman, mengingat pasar ekspor sebelumnya menjadi andalan utama penjualan perseroan.
Di sisi lain, GEMS memiliki keunggulan berupa kualitas batu bara dengan biaya produksi rendah serta dukungan pembeli tetap (stable buyer). Faktor tersebut membuat tekanan terhadap kinerja dinilai tidak sebesar produsen lain. “Untuk 2026, kinerja GEMS kemungkinan flat atau sedikit menurun, kecuali harga batu bara rebound lebih kuat dari ekspektasi,” ujar Wafi.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menambahkan, perubahan kontribusi pendapatan yang menjadikan penjualan domestik sebagai penyumbang utama hingga kuartal III-2025 menjadi sinyal penting. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan GEMS semakin aktif meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri.












