Saat Amerika Serikat, Israel dan Iran saling melancarkan serangan besar-besaran, saham-saham sektor pertahanan di Amerika Serikat melonjak.
Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026) langsung mendorong lonjakan signifikan pada saham-saham sektor pertahanan. Secara tradisional, industri ini memang selalu menjadi barometer geopolitik yang meroket saat ketegangan meningkat. Namun di balik gejolak jangka pendek tersebut, industri pertahanan tengah mengalami transformasi fundamental menuju model bisnis yang lebih stabil, bergeser dari sekadar penjualan senjata satu kali menjadi pendapatan berulang jangka panjang.
Transformasi ini didorong oleh perubahan radikal dalam sistem persenjataan modern yang tidak lagi menjadi barang sekali pakai, melainkan ekosistem teknologi yang membutuhkan perawatan terus-menerus. “Biaya operasional dan dukungan kini dapat mencapai sekitar 70 persen dari total biaya siklus hidup sistem senjata utama,” demikian bunyi laporan terbaru Kantor Akuntabilitas Pemerintah AS (GAO) yang dikutip dalam riset morningstar.com.
Konsekuensinya, setelah sebuah negara membeli jet tempur atau sistem pertahanan rudal, mereka terikat dalam komitmen puluhan tahun untuk pemeliharaan, suku cadang, dan pembaruan perangkat lunak.
Lockheed Martin menjadi contoh paling gamblang dari pergeseran model bisnis ini, dengan program F-35 yang menyumbang 26 persen dari penjualan bersih perusahaan pada 2024. Pengajuan laporan keuangan perusahaan secara eksplisit menyatakan bahwa pendapatan F-35 mencakup pengembangan, produksi, dan pemeliharaan secara terintegrasi.
“Penjualan layanan meningkat pada tahun 2024, sebagian didorong oleh volume yang lebih tinggi dalam kontrak pemeliharaan F-35,” ungkap Lockheed Martin dalam laporan tahunan yang sama. Hasilnya, perusahaan mencatatkan rekor backlog sebesar 194 miliar dolar AS pada akhir 2025.
Dinamika serupa juga dialami RTX dengan nilai pesanan tertunda mendekati 268 miliar dolar AS, serta Northrop Grumman yang fokus pada sistem canggih seperti pesawat siluman dan aset luar angkasa dengan pesanan mencapai 95,7 miliar dolar AS. Di era pertahanan modern, setiap platform yang dikirimkan akan terus menghasilkan pendapatan pemeliharaan dan peningkatan selama bertahun-tahun.
“Setiap pesawat tambahan yang dikirimkan memperluas kumpulan pendapatan pemeliharaan, logistik, dan modernisasi jangka panjang,” tulis morningstar.com dalam analisisnya.
Meskipun pendapatan berulang di sektor pertahanan bersifat kontraktual dan berbasis kinerja yang tetap menghadapi pengawasan ketat dari Pentagon, tren fundamental ini tidak dapat diabaikan. Setiap pesawat tempur atau sistem rudal yang dikirimkan saat konflik seperti serangan ke Iran pada akhirnya akan memperluas basis terpasang yang menjamin aliran pendapatan jangka panjang. Dengan kata lain, bagi investor yang cermat, saham pertahanan kini menawarkan perpaduan unik antara keuntungan geopolitik jangka pendek dan stabilitas pendapatan berlangganan jangka panjang.












