Tokoh bisnis nasional Theodore Permadi Rachmat melakukan aksi divestasi atas sebagian kepemilikan sahamnya di PT Essa Industries Indonesia Tbk. Penjualan dilakukan pada 26 Maret 2026 melalui delapan transaksi terpisah dengan total volume mencapai 60.822.800 saham dan nilai transaksi sebesar Rp45,87 miliar.
Rangkaian transaksi dimulai dari penjualan 5 juta saham di harga Rp740 per lembar, diikuti pelepasan 5,36 juta saham di harga Rp745. Aksi terbesar terjadi saat penjualan 24,75 juta saham pada harga Rp750, yang menjadi kontributor utama nilai transaksi secara keseluruhan.
Selanjutnya, transaksi berlanjut dengan pelepasan saham dalam beberapa tahap, termasuk penjualan pada rentang harga Rp755 hingga Rp775 per lembar. Pola ini mencerminkan strategi bertahap untuk memaksimalkan harga jual di tengah tren penguatan saham ESSA dalam beberapa waktu terakhir.
Manajemen menyatakan bahwa tujuan transaksi ini adalah untuk divestasi dengan status kepemilikan langsung. Langkah ini dinilai sebagai bagian dari strategi portofolio, terutama dalam momentum pasar yang sedang menguat.
Setelah seluruh transaksi rampung, kepemilikan saham TP Rachmat di ESSA turun menjadi 981,09 juta lembar atau setara 5,69%, dari sebelumnya 1,04 miliar saham atau 6,04%. Penurunan ini menunjukkan reposisi kepemilikan tanpa keluar sepenuhnya dari perusahaan.
Di sisi lain, pergerakan saham ESSA menunjukkan tren positif. Pada perdagangan 27 Maret 2026, saham ESSA ditutup menguat 0,67% ke level Rp755. Dalam sepekan, saham ini naik 2,03% dan melonjak 22,76% dalam satu bulan terakhir, mencerminkan minat investor yang tinggi terhadap emiten tersebut.
Kondisi ini sejalan dengan kinerja fundamental perusahaan yang menguat. ESSA sebelumnya dilaporkan mencatat lonjakan laba signifikan dan berhasil mencapai posisi tanpa utang pada akhir 2025, yang memperkuat sentimen positif di pasar.
Secara global, sektor energi dan kimia juga tengah mengalami pemulihan. Data International Energy Agency menunjukkan permintaan energi global diproyeksikan tumbuh sekitar 3% pada 2026, didorong oleh pemulihan industri dan transisi energi. Momentum ini turut mendukung prospek emiten seperti ESSA, sehingga aksi divestasi di tengah tren kenaikan harga saham dapat dipandang sebagai langkah strategis untuk merealisasikan keuntungan sekaligus menjaga eksposur investasi jangka panjang.












