Kinerja emiten crude palm oil (CPO) sepanjang 2025 menunjukkan tren positif dan menjadi fondasi bagi prospek industri di 2026. Sejumlah perusahaan mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan laba yang solid, didorong oleh kenaikan harga CPO global serta permintaan yang tetap kuat, baik dari pasar domestik maupun ekspor.
Salah satu yang menonjol adalah PT Astra Agro Lestari Tbk yang membukukan laba bersih sebesar Rp1,15 triliun pada 2025, tumbuh 27,83% secara tahunan. Pendapatan perseroan juga meningkat signifikan 31,3% menjadi Rp28,65 triliun, seiring dengan kenaikan harga jual dan volume penjualan.
Direktur Astra Agro, Tingning Sukowignjo, menjelaskan bahwa kinerja positif tersebut dipengaruhi faktor eksternal dan internal. Dari sisi eksternal, harga CPO global menguat dengan rata-rata CIF Rotterdam mencapai US$1.222 per ton pada 2025, naik 13% dibandingkan tahun sebelumnya. “Di sisi internal, kami mencatatkan peningkatan penjualan CPO dan turunannya serta kernel yang solid sepanjang tahun,” ujarnya.
Kinerja serupa juga terlihat pada emiten lain. PT PP London Sumatra Indonesia Tbk mencatatkan penjualan Rp5,51 triliun (+21% YoY) dan laba bersih Rp1,89 triliun (+28% YoY). PT Salim Ivomas Pratama Tbk membukukan penjualan Rp21,06 triliun (+32%) dan laba bersih Rp2,07 triliun (+33%), sementara PT Triputra Agro Persada Tbk serta PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk juga mencatat pertumbuhan laba dua digit, bahkan SMAR melonjak lebih dari 100%.
Analis menilai kinerja tersebut didorong oleh kombinasi pasokan global yang sempat ketat, kebijakan biodiesel B40, serta permintaan ekspor yang kuat. Kebijakan mandatori biodiesel terbukti menjadi penopang penting konsumsi domestik, sehingga membantu menjaga harga tetap tinggi sepanjang tahun lalu.
Memasuki 2026, prospek industri sawit diperkirakan tetap positif namun dengan pertumbuhan yang lebih moderat. Penundaan implementasi B50 berpotensi menahan lonjakan permintaan domestik, sementara kenaikan biaya operasional seperti pupuk dan energi dapat menekan margin perusahaan.
Di sisi lain, dinamika geopolitik global justru berpotensi menjadi katalis harga. Ketegangan di kawasan Timur Tengah dapat mendorong harga minyak dan menjadikan CPO sebagai alternatif energi, sehingga menopang harga komoditas. Namun, industri ini juga menghadapi tekanan dari kebijakan keberlanjutan (ESG) global yang semakin ketat.
Secara global, data World Bank menunjukkan harga minyak nabati, termasuk CPO, diperkirakan tetap tinggi dengan kisaran pertumbuhan permintaan sekitar 3–4% per tahun hingga 2030. Sementara itu, produksi sawit Indonesia diproyeksikan hanya tumbuh sekitar 5% pada 2026 akibat profil tanaman yang menua. Kondisi ini membuat harga CPO berpotensi stabil di kisaran MYR 4.200–4.500 per ton, sehingga kinerja emiten akan sangat bergantung pada efisiensi operasional dan peningkatan produktivitas untuk menjaga pertumbuhan laba.












