Perhimpunan Bank Nasional menegaskan bahwa industri perbankan nasional tengah memperketat langkah kehati-hatian di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel yang turut melibatkan Amerika Serikat. Risiko global yang meningkat dinilai berpotensi memicu tekanan melalui kenaikan harga energi dan volatilitas pasar keuangan.
Ketua Umum Perbanas, Hery Gunardi, menyampaikan bahwa sektor perbankan merespons kondisi tersebut dengan memperkuat kerangka manajemen risiko dan prinsip prudential banking. “Perbankan akan semakin memperkuat prinsip kehati-hatian melalui penguatan manajemen risiko dan kualitas aset,” ujarnya.
Meski dihadapkan pada tekanan eksternal, fundamental perbankan domestik dinilai masih solid. Hal ini tercermin dari pertumbuhan kredit yang tetap terjaga, likuiditas yang memadai, serta tingkat permodalan yang kuat, sehingga memberikan bantalan terhadap potensi guncangan global.
Sebagai langkah mitigasi, perbankan secara aktif melakukan stress test sektoral untuk mengantisipasi potensi penurunan kualitas kredit. Pengujian ini difokuskan pada sektor-sektor yang sensitif terhadap kenaikan harga energi, seperti transportasi, logistik, dan manufaktur.
Selain itu, bank juga memperkuat sistem peringatan dini (early warning system) guna mendeteksi risiko kredit lebih awal. Pendekatan ini diharapkan mampu menjaga kualitas aset di tengah ketidakpastian ekonomi yang masih tinggi.
Dari sisi intermediasi, disiplin penyaluran kredit diperketat melalui penerapan risk-based pricing. Sementara itu, pengelolaan likuiditas dilakukan dengan menjaga rasio seperti liquidity coverage ratio (LCR) dan net stable funding ratio (NSFR) agar tetap berada pada level aman.
Perbankan juga mengambil langkah konservatif dalam mengelola risiko nilai tukar, termasuk melalui strategi lindung nilai dan pengendalian posisi devisa neto. Pendekatan ini menjadi krusial untuk menjaga stabilitas di tengah fluktuasi mata uang global.
Secara global, tekanan terhadap sektor keuangan memang meningkat. Data International Monetary Fund menunjukkan volatilitas pasar keuangan global naik lebih dari 20% sejak awal 2026 akibat ketegangan geopolitik. Dalam konteks ini, penguatan manajemen risiko oleh perbankan nasional menjadi kunci untuk menjaga ketahanan sistem keuangan sekaligus memastikan fungsi intermediasi tetap berjalan optimal dalam mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.












