PT Petrosea Tbk (PTRO) kembali memperkuat portofolio bisnisnya melalui perolehan kontrak strategis di sektor energi. Melalui konsorsium Petrosea–ETI–Nindya, perseroan menandatangani kontrak pekerjaan Onshore LNG Perimeter Construction Works dari INPEX Masela Ltd dengan nilai mencapai Rp989,17 miliar dan durasi pengerjaan selama 36 bulan. Proyek ini menjadi bagian penting dalam pengembangan Lapangan Abadi, Blok Masela, yang merupakan salah satu proyek LNG terbesar di Indonesia.
Ruang lingkup pekerjaan dalam kontrak tersebut mencakup pembangunan pagar perimeter dan jalan ekspansi publik, pembangunan jalan pengalihan, relokasi jaringan listrik eksisting, serta opsi pengembangan fasilitas pendukung seperti pioneering jetty dan mini Intensive Vital Care Unit (IVCU). Proyek ini menegaskan peran Petrosea dalam mendukung pembangunan infrastruktur energi strategis nasional, khususnya di wilayah timur Indonesia.
Konsorsium yang mengerjakan proyek ini terdiri dari PT Petrosea Tbk, PT Enviromate Technology International, dan PT Nindya Karya (Persero). Dalam kerja sama tersebut, Petrosea memegang porsi partisipasi sebesar 36 persen. Kolaborasi ini mencerminkan sinergi antar pelaku industri dalam menggarap proyek berskala besar dengan kompleksitas tinggi.
Sekretaris Perusahaan Petrosea, Anto Broto, menyampaikan bahwa perolehan kontrak ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan kinerja perseroan sekaligus menjadi bagian dari strategi ekspansi dan diversifikasi usaha. “Kontrak ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat pertumbuhan berkelanjutan serta menciptakan nilai tambah bagi para pemegang saham dan pemangku kepentingan,” ujarnya.
Kinerja keuangan Petrosea sepanjang 2025 menunjukkan tren yang sangat positif. Perseroan mencatatkan laba bersih sebesar US$28,80 juta, melonjak signifikan sebesar 197% dibandingkan US$9,69 juta pada tahun sebelumnya. Lonjakan ini sejalan dengan pertumbuhan pendapatan yang mencapai US$886,45 juta atau naik 28,32% secara tahunan.
Dari sisi kontribusi pendapatan, segmen penambangan menjadi penyumbang terbesar dengan nilai US$389,25 juta, diikuti oleh konstruksi dan rekayasa sebesar US$379,74 juta. Sementara itu, segmen EPCI minyak dan gas lepas pantai menyumbang US$32,86 juta, jasa sebesar US$30 juta, serta pendapatan lain-lain sebesar US$2,5 juta. Penjualan batu bara juga turut memberikan kontribusi sebesar US$52,01 juta.
Kenaikan pendapatan turut diiringi dengan peningkatan beban usaha langsung sebesar 28,93% menjadi US$774,23 juta pada 2025. Meski demikian, perseroan tetap mampu menjaga profitabilitas dengan mencatatkan laba kotor sebesar US$112,22 juta, tumbuh 24,30% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar US$90,28 juta.












