PT Asuransi Multi Artha Guna Tbk mencatat penurunan laba bersih sepanjang 2025 di tengah pertumbuhan premi dan aset. Tekanan utama terhadap kinerja perseroan berasal dari peningkatan beban klaim yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, mencerminkan tantangan di industri asuransi umum.
Berdasarkan laporan keuangan per Desember 2025, laba bersih AMAG tercatat sebesar Rp156,49 miliar, turun signifikan 41% dibandingkan Rp265,24 miliar pada periode yang sama tahun 2024. Penurunan ini terjadi meskipun perusahaan masih mencatatkan pertumbuhan bisnis dari sisi pendapatan premi.
Total premi yang dibukukan perseroan meningkat 11,48% menjadi Rp2,87 triliun pada 2025, dibandingkan Rp2,58 triliun pada 2024. Kinerja ini menunjukkan bahwa ekspansi bisnis tetap berjalan, seiring meningkatnya kebutuhan proteksi di berbagai sektor ekonomi.
Namun demikian, kenaikan premi tidak sepenuhnya mampu mengimbangi peningkatan beban klaim. Sepanjang 2025, beban klaim tercatat naik 2,47% menjadi Rp1,17 triliun dari Rp1,14 triliun pada tahun sebelumnya, yang secara langsung menekan margin underwriting perusahaan.
Sebagai perbandingan, pada 2024 perseroan mencatat hasil underwriting sebesar Rp872,36 miliar yang menjadi penopang utama laba. Kondisi ini menunjukkan adanya penurunan kualitas profitabilitas underwriting pada 2025, meskipun aktivitas bisnis tetap tumbuh.
Dari sisi neraca, AMAG mencatat pertumbuhan yang cukup solid. Total aset meningkat 17% menjadi Rp5,75 triliun pada 2025, sementara ekuitas naik 18% menjadi Rp2,17 triliun. Hal ini mencerminkan fundamental perusahaan yang masih relatif kuat meskipun laba mengalami tekanan.
Di sisi investasi, hasil yang dibukukan perseroan mengalami penurunan sebesar 7,54% menjadi Rp134,59 miliar dari Rp145,57 miliar pada 2024. Penurunan ini turut berkontribusi terhadap melemahnya laba bersih, di tengah volatilitas pasar keuangan yang masih berlangsung.
Secara industri, tantangan yang dihadapi AMAG sejalan dengan tren global. Data Swiss Re Institute menunjukkan bahwa klaim asuransi non-jiwa secara global meningkat akibat frekuensi bencana dan inflasi biaya, sementara pertumbuhan premi diproyeksikan hanya sekitar 3–4% per tahun. Kondisi ini menegaskan pentingnya pengelolaan risiko dan efisiensi underwriting untuk menjaga profitabilitas perusahaan di tengah tekanan eksternal.












