Mengapa kita senang berlama-lama berada dalam ruang digital apalagi sambil berselancar di media sosial. Sebab, media sosial mampu membuat penggunanya bahagia.
Koordinator Program Yayasan Semai Jiwa Amini (SEJIWA), Andika Zakiy dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Rabu (16/6/2021) mengatakan, media sosial itu dapat membuat penggunanya mengeluarkan hormon dopamin. Hormon dopamin merupakan hormon kesenangan yang berkaitan dengan reaksi instan juga ketergantungan. Akhirnya ketika kita lakukan secara terus-menerus terus kita menjadi ketergantungan pada media sosial.
Andika juga memaparkan, seperti pada penelitian dr. Shimi Kang pakar kesehatan mental anak-anak dan dewasa, media sosial memang diatur agar penggunanya selalu berada di sana.
Apa yang membuat senang? Senang saat kita mengunggah postingan atau konten kemudian mendapat banyak respon. Komentar positif, like, love dan sebagainya yang membuat content creator bangga akan hasil kerjanya. Dia senang dan semakin bersemangat untuk kembali membuat konten yang disukai. Rasa kecanduan untuk mendapat respon itu terus bergejolak.
Ketika sudah kecanduan dan merasa bahagia setelah mendapat apresiasi setelah membuat konten. Konten dengan like juga komentar yang banyak akhirnya menjadi tujuan. Tidak heran semua mengincar membuat konten viral.
Jalan membuat konten viral menjadi pilihan, viral yang positif tidak masalah. Namun selama ini konten viral di Indonesia sesuatu yang konyol cenderung negatif.
Andika menyayangkan jika anak-anak dan remaja mengutamakan untuk membuat konten dengan tujuan viral. Padahal jika mereka tidak mengutamakan membuat konten yang positif ini akan menciptakan jejak digital yang buruk bagi diri mereka. Mungkin tidak saat ini dampaknya, tapi bisa terasa pada beberapa tahun kemudian adapun misalnya berpuluh-puluh tahun kemudian. Saat anak tersebut nanti melamar pekerjaan atau mendaftar beasiswa.
“Jejak digital ini mungkin bisa jadi seperti bom waktu tidak akan terasa sekarang tapi nanti akan merasakan dampaknya,” ucapnya.
Jejak digital ini harus selalu diingatkan para generasi muda. Agar mereka dapat bertanggung jawab atas karya yang dihasilkan. Presiden Joko Widodo juga berharap masyarakat membanjiri ruang digital dengan konten positif agar konten negatif tenggelam.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama Siberkreasi di wilayah Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Rabu (16/6/2021) ini juga menghadirkan pembicara Annisa Junaidi (Pendiri OASE Academy), akademisi Bambang Bujono, Rahmad Widyo Utomo (Relawan TIK Kalimantan Barat), dan Amanda Karina Putri seorang Key Opinion Leader.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.