Masyarakat sebenarnya telah kecanduan dengan internet. Pandemi mempercepat hubungan kita dengan digital, sehingga mengubah cara bisnis kita. Setiap harinya, kita mengunjungi media sosial, berkontribusi, bahkan bekerja melalui platform tersebut. Dengan jumlah rata-rata waktu yang dihabiskan di media sosial selama 3 jam.
“Media sosial harus menjadi tempat memperluas wawasan, mengembangkan keterampilan, dan mencari potensi income tambahan. Dengan pandemi ini sebelumnya, potensi income kita terilusi itu amat besar. Hal yang dapat dilakukan, seperti mengisi kelas webinar, Youtube, podcast, menulis blog/jurnal,” papar Bowo W. Suhardjo, Komisaris Independen IndoStreling Aset Manajemen Konsultan Bisnis, saat menjadi pembicara dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di Kabupaten Subang, Jawa Barat, Rabu (14/7/2021).
Dari semua data itu, kita sudah pasti kecanduan. Kita harus mencari angle-angle di mana kita bisa produktif dalam menggunakannya. Misalnya, bermain di pasar atau platform yang kita jagokan. Fakta lainnya, belanja semakin gampang ditambah dengan adanya paylater.
“Kemudian Instagram, penggunanya di Indonesia ada 69 juta. Analisa pengguna Instagram sebanyak 36% berusia 18-24 tahun dan 33,2% berusia 25-34 tahun. Ini adalah market kita. Kalau kita mau jualan harus memikirkan orang-orang muda ini maunya apa. Penggunanya 51% adalah wanita,” tambahnya.
Ia menyampaikan alasan mengapa Instagram merupakan ruang dan lebih disukai wanita. Di antaranya, ada ruang obrolan karena pada dasarnya wanita suka membicarakan berbagai hal dari mulai yang kecil hingga besar. Kedua, suka stalking, wanita suka memantau beberapa hal yang membiat mereka penasaran, tergantung dengan ketertarikan mereka. Ketiga, peduli sesama, wanita tidak sungkan untuk menggalang kebaikan untuk tujuan tertentu melaui platform ini.
Keempat, wanita itu narsis dan suka mengeksplorasi diri melalui foto selfie. Kelima, wanita senang perhatian dan ditumpahkan ke media sosial. Keenam, wanita suka belanja dan Instagram juga memiliki fokusnya dalam memudahkan belanja pengguna dengan fitur Instagram Shop.
Memanfaatkan kemampuan literasi digital untuk berjualan di platform media sosial menjadi salah satu cara untuk produktif. Fitur Instastory, Reels, dan Instashop memudahkan berjualan. Beberapa online shop yang memanfaatkan Instagram sebagai platform berjualan dan mendapat followers hingga ratusan ribu, seperti Devilknitwear (475rb), Mayoutfit (499rb), dan Rubylicious (475rb).
Apabila belum berjualan secara online, maka hal yang dipaparkan oleh Bowo ini dapat menjadi langkah awal dalam memulai. Pertama, menentukan produk yang akan dijual secara online dapat berupa produk sendiri, reseller, atau dropship. Kemudian, memperhatikan dan memanfaatkan tren yang ada. Selanjutnya, membuat toko online melalui media sosial atau marketplace, menyajikan foto produk yang menarik. Langkah selanjutnya, melakukan promosi dengan memanfaatkan fasilitas yang ada.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Subang, Jawa Barat, Rabu (14/7/2021) ini juga menghadirkan pembicara, Geri Sugiran AS (Dewan Pembina Relawan TIK Jabar – Dosen TIK Stikes Kota Sukabumi), Devie Rahmawati (Dosen Vokasi Universitas Indonesia), M. Agreindra Helmiawan (Klik Indonesia & LFFM STMIK Sumedang), dan Dian Putri Utami sebagai Key Opinion Leader.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.
Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.












