Landasan kebudayaan digital adalah kebudayaan nasional. Sesuatu menjadi kebudayaan nasional karena jati diri daerahnya melekat. Puncak kebudayaan daerah ialah yang menjadi kebudayaan nasional.
Hidup di dunia nyata dan dunia maya itu ada aturan mainnya. Aturan main tersebut berlaku bagi siapapun yang ada di dalamnya. Contohnya, aturan yang universal kita punya hak asasi manusia. Oleh karena itu, dalam menggunakan internet terdapat aturan mainnya.
“Yang harus dibangun oleh kita adalah keyakinan bahwa negara ini didirikan oleh semua umat beragama. Maka kita harus sama-sama harus mampu menjaga persatuan sampai Indonesia ini ada di masa depan. Kita lakukan itu dengan cinta,” ujar Asep Kambali, Founder Komunitas Historia Indonesia, saat menjadi pembicara dalam Webinar Literasi Digital di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat (22/7/2021).
Fakta yang terjadi pada dunia digital, nilai-nilai kebangsaan kita rendah. Saat ini banyak yang melecehkan gambar pahlawan dan kepala negara, melecehkan lambang negara, tidak paham sejarah, tidak hafal Indonesia Raya, dan melarang lagu Indonesia Raya.
Untuk bisa mencintai negara dan orang lain, kita harus mencintai diri sendiri, Karena itu yang paling penting. Pahami siapa diri kita sebenarnya. Jadi, kalau masih menyakiti dan melukai diri sendiri, jangan sampai kita lakukan itu lagi.
Kekuatan negara ini terletak pada kebudayaannya yang melimpah. Indonesia memiliki 17 ribu pulau 1321 etnis, 652 bahasa, dan juga sejarah. Perbedaan kebudayaan juga bisa menjadi konflik horizontal apabila orang-orang tidak memiliki rasa toleransi.
“Era globalisasi inilah ketika kita berpindah dari kehidupan konvensional menjadi digital. Akan tetapi, pada kenyataannya transformasi digital ini bukanlah hal yang mudah, tidak sesederhana menggantikan teknologi. Perubahan digital ini juga mengubah kebudayaan dan mindset kita. Oleh karena itu, dibutuhkan pemikiran digital dalam menghadapinya,” papar Asep.
Digital mindset merupakan keyakinan dalam diri yang menunjukkan orientasi dan cara kita melihat situasi dalam konteks digital tertentu dan memilih respons terhadap konteks itu. Mindset menentukan cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Oleh karena itu, mindset yang baik akan menghasilkan output baik, sedangkan pada mindset buruk justru terjadi sebaliknya. Akibatnya, sebagian besar kegagalan transformasi digital terjadi bukan karena tidak adanya teknologi dan infrastruktur, melainkan kebanyakan masalah terjadi pada mindset kita.
Dalam kehidupan digital harus ada kapabilitas juga yang terdiri dari, kebudayaan digital, kewarasan digital, kedaulatan digital, kecakapan digital, dan kemerdekaan digital.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Kamis (22/7/2021) juga menghadirkan pembicara, Patria Riza (Slide Designer), Fibra Trias Amukti (Editor in Chief Mommies Daily), Taufik Hidayat (Kepala UPT IT & Dosen Fakultas Teknik Universitas Islam Syeikh Yusuf), dan Made Nandhika.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.












