Dalam Berhubungan dan berkomunikasi dengan orang, meskipun beragam suku budaya dan banbsa, tetapi tetap mempunyai satu kesamaan yaitu membutuhkan perlakukan yang profesional. Sehingga diperlukan sikap dan perilaku yang tepat atau etis untuk menghadapi masing-masing situasi dan kondisi.
“Jika kita sudah menggunakan atribut organisasi, perilaku kita membawa tiga bendera diri kita sendiri, organisasi dan negara dimana kita berada. Jadi bagaimana kita berhubungan berkomunikasi dengan orang meskipun beragam multikultural tetapi tetap satu kesamaan membutuhkan perlakuan sebaik-baiknya. Sikap perilaku yang etis atau mengikuti norma dan aturan yang berlaku,” ujar Herman Pasha Psikolog dan Pakar Etika ketika berbicara dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Senin (6/9/2021).
Maksud dan tujuan dari etika dunia digital ini karena dalam ruang digital kita akan berinteraksi dan berkomunikasi dengan berbagai latar belakang kultural seperti pendidikan, usia, suku bangsa dan seterusnya. Sehingga pertemuan secara global tersebut menciptakan standar etika yang baru. Bagaimana harus bersopan santun walaupun tidak bertatap muka dengan orang lain? Bagaimana dapat memahami budaya bangsa lain?
Pasha menambahkan, seseorang memiliki kesadaran penuh dalam menggunakan dan memahami pemakaian media digital yang mengacu pada kesadaran bertujuan baik dan positif, harus melakukan kejujuran integritas dan bertanggung jawab. Dalam setiap posting-an, konten yang diproduksi di media digital seharusnya menjadi sebuah konten yang positif bermanfaat. Selain itu harus integritas atau jujur menghargai mengakui hak cipta. Jangan sampai apa yang kita buat itu adalah milik orang lain.
“Jika kita mengucap sebuah pendapat atau opini jangan lupa kita tampilkan sumbernya. Bila kita mengupload sebuah foto jangan lupa kita juga men-tag orang pemilik dari foto tersebut. Kita harus bertanggung jawab atas apa yang kita ucapkan di kolom komentar orang apa yang kita buat kita harus bisa mengambil risiko,” tutur dari pelatih etika ratusan Volunteer Asian Games 2018.
Melakukan sikap dan tindakan yang etis termasuk tulisan dan ucapan dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan menggunakan media digital dengan cara turut berpartisipasi dan berkolaborasi secara positif. Dalam berbagi informasi yang baik etis dan bermanfaat berguna masyarakat, berpartisipasi ikut dalam menciptakan ruang digital yang sehat jauh dari hoaks, ujaran kebencian cyberbullying dan segala tantangan di dunia digital lainnya.
Warga digital juga harus berkolaborasi antarsesama pengguna media digital membuat konten bersama atau membuat sebuah acara untuk hal positif dan sebagainya yang dapat dilakukan di ruang digital.
Webinar juga menghadirkan pembicara Ryzki Hawadi (CEO Attention Indonesia), Dian Nurawaliah Sonjaya (Founder Maleeha Skincare), Meylani Pratiwi (Relawan TIK Jawa Barat), dan Deya Oktarissa sebagai Key Opinion Leader.












