Sebagai warga negara Indonesia yang memiliki banyak keragaman budaya, melestarikan kebudayaan sangat baik untuk mempertahankan nilai-nilai seni budaya secara dinamis agar terjadi revitalisasi budaya. Namun pada pelaksanaannya, melestarikan kebudayaan itu tentu tidak selalu berjalan mulus selalu ada hambatan dan tantangan.
Di antaranya adanya penolakan generasi muda terhadap warisan budaya dan munculnya budaya baru yang sudah tidak lagi sesuai dengan warisan budaya. Misalnya generasi milenial yang konon sekarang serba instan yang anti sosial. Terakhir, penyebabnya karena adanya perubahan zaman yang mengakibatkan budaya warisan tersebut sudah tidak lagi sesuai dengan dinamika masyarakat saat ini.
Ini menjadi isu penting, bagaimana perkembangan peradaban manusia dengan kebudayaannya, akhirnya sampai pada suatu tahap yang disebut era digital. Digitalisasi merupakan hasil budidaya manusia hasil kerja keras pemikiran dengan segala macam eksperimentasinya sehingga harus dilihat sebagai suatu dampak positif dari peradaban manusia.
Muhammad Satria, Direktur Karang Taruna Institute mengatakan, digitalisasi menimbulkan konsekuensi dan dampak besar positif maupun negatif. Konsekuensi yang dimaksud adalah relasi sosial yang terinterupsi dengan adanya hasil perkembangan teknologi digital. Upaya pengembangan diri dan komunitas dengan memanfaatkan teknologi digital terjadi semakin cepat. Dengan perkembangan teknologi digital ini maka diharapkan masyarakat dapat menjadi lebih berkualitas, cepat, dan lebih beradab.
Namun seiring dengan perkembangan era digital yang semakin meluas, budaya dari suatu masyarakat harus tetap dijaga keasliannya atau kerap disebut dengan kearifan lokal. Hal tersebut merupakan warisan dari orang terdahulu. Kearifan lokal atau local wisdom ini biasanya diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi melalui cerita dari mulut ke mulut.
“Kearifan lokal berhubungan secara spesifik dengan budaya tertentu dan mencerminkan cara hidup suatu masyarakat, Kearifan lokal muncul dari dalam masyarakat sendiri disebarluaskan secara nonformal dan dimiliki secara kolektif oleh masyarakat yang bersangkutan kearifan lokal merupakan identitas atau kepribadian budaya sebuah bangsa yang menyebabkan bangsa tersebut mampu menyerap bahkan mengolah kebudayaan yang berasal dari luar atau bangsa lain menjadi watak dan kemampuan sendiri,” jelasnya pada webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (7/9/2021).
Dalam kearifan lokal itu terbentuk sebuah tradisi yang di dalamnya terkandung beberapa nilai di antaranya nilai religius, estetika, gotong royong, moral dan toleransi. Nilai religi yakni mengenai konsep kehidupan religius atau keagamaan berupa ikatan atau hubungan yang mengatur manusia dengan Tuhan-nya. Nilai religi ini dapat dikembangkan di antaranya dengan hari besar agama yang lebih semarak untuk dirayakan, pesantren online, kajian agama yang lebih mudah, dakwah online dan silaturahim atau saling memberi ucapan.
Nilai estetik adalah nilai yang berdasar pada keindahan unsur dalam estetika dapat berupa warna bentuk tema dan motif di era digital kehidupan masyarakat dapat memiliki nilai estetika diantaranya dengan menghargai karya seni mengembangkan desain seni berkomunikasi dalam seni berbagai keindahan untuk kedamaian
“Nilai-nilai gotong royong merupakan sebuah karakteristik dari masyarakat Indonesia yang gemar melakukan kegiatan dilakukan secara bersama-sama dan bersifat sukarela agar kegiatan yang dikerjakan berjalan dengan lancar mudah dan ringan. Nilai-nilai dalam gotong royong selain nilai kebersamaan ada juga nilai kebahagiaan, kesedihan, toleransi, kerja bakti dan tolong-menolong di era digital kehidupan masyarakat dengan nilai gotong-royong di antaranya menggerakkan donasi, menggerakkan agenda aksi, mempelopori dan memberi contoh,” jelasnya.
Webinar juga menghadirkan pembicara Allana Abdullah (Pengusaha Online), Theo Derick (Praktisi Marketing Digital), Indira Salsabila Ayuwibowo (Public speaker dan online enterpreneur), dan Ida Rhynjsburger sebagai Key Opinion Leader.












