Bagi generasi muda, saat mendengar kata budaya terasa asing dan kurang menarik. Budaya sendiri sebenarnya ialah apa yang dipikir dan kebiasaan. Kebiasaan kita terhadap digital itu sangat besar setiap generasi memiliki ciri khasnya masing-masing. Ada generasi milenial, Zilenial, Alfa yang setiap generasinya memiliki gaya komunikasi masing-masing.
Fungsi dari budaya ialah sebagai penentu batas-batas melalui budaya. Novi Hidayati Afsari, dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung menjelaskan, menyangkut fungsi ini, terdapat kisah viral beberapa waktu lalu. Artis Dinar Candy yang protes PPKM menggunakan bikini. Mungkin jika itu dilakukan di Bali tidak masalah tapi ini dilakukan di Jakarta. Jadilah sebuah masalah menyangkut kebiasaan atau budaya. Jadi budaya yang memberi batasannya, apalagi kalau di luar negeri di negara Eropa dan di barat menjadi tidak masalah karena budaya mereka seperti itu.
Budaya itu sebagai identitas asli, kebiasaan cara berbicara atau logat seseorang akan mencirikan asal daerah seseorang. Budaya sebagai komitmen untuk menjaga dan lebih membesarkan budaya kita sendiri. Fungsi budaya untuk stabilitas pembentuk sikap dan perilaku seseorang.
Dunia digital pembawa candu bagi penggunanya, tidak heran sebenarnya ada bahaya mengintai mental penggunanya. Pertama, FOMO Fear of Missing Out takut terlewatkan tren.
“Misalnya kini sedang tren pembuat konten berupa konten prank. Lantas kita harus mengikutinya padahal apa yang diikutiti belum tentu baik untuk anak-anak,” ungkapnya di webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (9/9/2021).
Kemudian ada juga digital fatigue, kelelahan yang disebabkan penggunaan media digital. Bahkan seseorang bukan hanya fisiknya yang mengalami kelelahan tapi juga mentalnya. Jika sudah merasakan ada digital fatigue segera melakukan detoks caranya mengurangi jumlah penggunaan media. Selanjutnya adiksi atau kecanduan, rasa ingin terus memegang gawai, membuka media sosial. Ketika ada notifikasi di gawainya, dia akan langung melihatnya, hal tersebut terus dilakukan setiap saat.
Gangguan mental lainnya narsistik, seringnya kita tidak mengetahui gangguan ini karena dianggap biasa. Sering di media sosial terjadi, bahkan menurut Novi jika dalam sehari ada 5 postingan mengenai diri sendiri di story Instagram, atau WhatsApp berarti seseorang itu sudah ada kecenderungan mengidap narsistik sesuai dengan. Jika ingin membagikan sesuatu pastikan itu bermanfaat.
Atau juga membagikan hasil karya kita berupa konten. Budaya berkarya di dunia digital, ini membuat kebiasaan untuk mengubah tidak lagi menjadi konsumen tetapi kini menjadi produsen.
“Jika kita dapat berkarya sesuatu yang baik itu karena berlatih, kita berlatih untuk menjadi ahli. Ahli itu ibarat sumur yang walaupunkecil tapi dalam danmenjadisumber air di sana. Jika tidak ahli itu diibaratkan seperti kolam besar terlihat tapi tidak dalam. Seseorang terlihat serba bisa, serba ada namun tidak dapat tidak ahli pada suatu bidang. Tidak sedalam sumur kolam sangat dangkal dan tidak ada sumber airnya. Ahli-lah dalam sebuah ilmu,” jelasnya.
Tangan kita menggenggam karya kita, dan karya itu bagaimana dapat membuat seseorang produktif yang positif untuk masyarakat di dunia digital. Novi juga berpesan, sampaikanlah walau satu posting-an. Posting-lah apa yang dipikirkan, pikirkan kembali apa yang diposting, apakah bermanfaat.
Webinar juga menghadirkan pembicara Ismita Saputri (Podcaster, Enterpreneur), Steve Pattinama (Kreator Konten), Diondy Kusuma (Owner Diana Bakery), dan Shinta Putri sebagai Key Opinion Leader.












