Sunda sebagai budaya memiliki falsafah hidup yang membantu mengarahkan masyarakat untuk hidup sesuai kaidah. Banyak kaidah Sunda yang tercipta dinilai dapat membantu interaksi masyarakat. hiburan yang sarat akan nilai-nilai sportivitas seperti kaulinan lembur yang dapat mendidik anak-anak Sunda untuk, kekompakan, kebersamaan, saling membantu dan banyak lagi.
Sebelum digital banyak digunakan di masyarakat dan anak-anak permainan permainan tradisional memang masih banyak dimainkan oleh anak-anak, motorik merek pun semakin diasah.
Achmad Wildan Kurniawan Wakil Dekan I Fakultas Komunikasi dan Informasi mengatakan, filsafah orang Sunda juga sebenarnya dapat diaplikasikan dalam kehidupan di dunia digital seperti cageur, bageur, bener, singer dan pinter.
Cageur atau sehat, kita ini sebagai individu ini dalam kita beraktivitas, dalam kita memulai kehidupan itu harus jaga kesehatan, harus sehat. Bagaimana sehat secara jasmani dan rohani, sehat berpikir, mempunyai pendirian sehat secara moral. dalam beraktivitas di media digital pun harus sehat. Bagaimana kita bermoral dan beretika di ruang digital.
“Sehat memang tidak selalu dari fisik saja tapi juga dari segi mental. Saat kita di media sosial ada orang yang berbeda pendapat dengan kita jangan pernah kita bully, atau marahi karena perbedaan itu bukan sebuah kesalahan sangat wajar perbedaan itu. Sehat dalam bekerja dan bertutur kata,” ujarnya saat menjadi pembicara dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat, Kamis (07/10/2021).
Kedua yakni bageur atau baik, baik terhadap sesama, baik secara moril dan materiil, tidak pelit terhadap sesama. Jangan pelit pemikiran, pelit pemberian atau apapun. Jadilah sosok yang sering menolong, kita rela menolong orang lain. Selanjutnya kita juga sebagai insan harus bener atau benar. Tidak bohong tidak asal-asalan dalam mengerjakan pekerjaan amanah. Menjadi pemimpin yang baik dan tidak merusak alam.
Dalam bermedia digital bagaimana kita membuat konten yang positif, dan ketika ada informasi yang datang kita harus cek kebenarannya. Jangan sampai kita percaya informasi yang tidak benar bahkan membagikannya.
Kita juga harus singer atau mawas diri bagaimana menjadi seorang manusia harus teliti dalam bekerja mendahulukan orang lain daripada diri sendiri menghargai pendapat orang lain, penuh kasih sayang tidak marah saat dikritik namun diterima lapang dada.
“Ini sangat mudah diucapkan namun kenyataannya masih banyak orang yang saat ini menjadi sosok pemarah yang mudah untuk membuat status namun sembarangan tidak dipikirkan terlebih dahulu. Memang, media digital itu sebagai tempat kita mengaktualisasikan diri. Tetapi sebaiknya ketika kita mendapatkan masalah yang sifatnya pribadi tidak perlu semua orang tahu. Tidak perlu semua harus dibuat status karena tidak semua orang suka dengan kita dan tidak semua orang ketika kita mendapatkan kesulitan mereka turut empati. Kita akan sangat bijak apabila pada saat kita bermasalah kita tidak perlu terlalu terbuka di media digital,” jelasnya.
Terakhir, pinter saran bagi pemerintah dalam membuat sebuah pendidikan alangkah lebih elegannya sebelum membuat anak didik pintar tapi bagaimana mendidik mereka untuk cageur, bageur, bener, singer baru pinter. Pintar itu cerdas bagaimana kita mengenal ilmu, agama, keseharian, keilmuan yang ada di dunia sampai benar- benar paham, bijak saat ada masalah. Seseorang dengan kepintaran yang dia miliki ini bisa disesuaikan dengan lingkungan kita kita bisa berbagi dengan orang-orang di lingkungan kita. Bijak dalam menggunakan media ini.
“Saya senang sekali melihat channel YouTube yang kontennya berisi berbagi ilmu atau tutorial mengenai apapun. Bukan hanya media digital itu digunakan untuk hiburan. Kita sangat butuh hiburan tetapi sebagai penikmat tayangan-tayangan edukasi dan menginspirasi sehingga alangkah lebih baiknya mereka mereka yang merasa ahli dalam bidangnya dapat membagikan ilmunya di konten-konten ruang digital,” tutupnya.
Webinar juga menghadirkan pembicara, Rinda Cahyana (Relawan TIK Indonesia), Erri Ginandjar (GA Director Radio Oz Bali), Ismita Saputri (Dosen Kreator Konten), dan Almira Vania sebagai Key Opinion Leader.












