Data Bank Indonesia menunjukkan, nilai transaksi e-commerce di Indonesia pada 2020 mencapai Rp266,3 triliun dengan 15,3 juta UMKM yang masuk ke platform digital. Beruntungnya, ekosistem online di Indonesia ini didukung oleh pemerintah dan dijaga agar pelaku UMKM ini semakin maju dengan memberikan sosialisasi, edukasi, dan pendampingan. Hal ini juga ditunjang dengan adanya marketplace.
Banyaknya marketplace terkadang membuat bingung pelaku UMKM untuk memilihnya. Dona Vennytaria selaku owner New Life menyarankan, kita harus mencobanya satu per satu. Setelah dicoba, kita perlu melihat fitur update produk, biaya admin, jangkauan, serta iklan toko dan produk. Perhatikan juga, apakah aplikasi marketplace tersebut nyaman untuk digunakan.
“Kalau kita berjualan di marketplace online tentu ingin dagangannya laku, toko kita dikenal, dan banyak untung. Sebelum mencapai itu, kita pikir terlebih dahulu ingin jual produk apa. Jual produk yang kita paham, bukan cuma hits sementara,” ungkap Dona dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Selasa (12/10/2021).
Ia menyampaikan, kita pun perlu memikirkan sumber produk, waktu pengerjaan, stok, packaging, dan exposure. Selain mendapat keuntungan, berjualan online di marketplace bisa menambah pengetahuan baru, skill baru, kepribadian, ide baru, hingga koneksi yang semakin luas. Kepribadian kita bisa berubah menjadi lebih positif dan produktif, serta memiliki beragam ide untuk mengembangkan toko agar lebih maju.
“Semua bisa jualan online, mulai dari yang kita bisa, kita punya, dan hal-hal sederhana,” tutur Dona.
Apabila kita kebingungan mengenai produk yang akan dijual, kita bisa memulainya dengan barang-barang pribadi yang sudah menumpuk dan tidak terpakai, tetapi dengan kualitas yang bagus. Istilah ini biasanya dikenal dengan nama preloved. Dengan begitu, kita bisa memulai usaha tanpa modal.
Webinar juga menghadirkan pembicara, Ari Budi Wibowo (Kepala Bidang Kemitraan Siberkreasi), Elfira Fitri Wahyono (Manajer External Student Affairs of UMN), Ardie Halim Wijaya (Kaprodi Manajemen Informatika Universitas Buddhi Dharma), dan Randi Rinaldi.












