Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia melaporkan capaian positif sektor hulu migas sepanjang 2025. Rata-rata lifting minyak bumi mencapai 605,3 ribu barel minyak per hari (MBOPD) atau 100,5 persen dari target APBN 2025 sebesar 605 MBOPD.
“Target lifting di APBN 605 MBOPD. Alhamdulillah tercapai, bahkan sedikit melampaui,” kata Bahlil dalam Konferensi Pers Capaian Kinerja Sektor ESDM 2025 di Jakarta, Kamis (8/1).
Bahlil menjelaskan, capaian tersebut telah mencakup Natural Gas Liquid (NGL) dan kondensat dari PT Donggi Senoro LNG. Ia menegaskan pencapaian ini menjadi catatan penting setelah hampir satu dekade target lifting minyak dalam APBN tidak pernah terpenuhi.
Menurut Bahlil, terakhir kali pemerintah mencatat peningkatan produksi minyak dan gas bumi terjadi pada 2016. “Setelah itu tidak pernah lagi lifting mencapai target. Kali ini kita berhasil,” ujarnya.
Di sisi lain, rata-rata lifting gas bumi pada 2025 belum memenuhi target APBN. Kementerian ESDM mencatat lifting gas bumi mencapai 951,8 ribu barel setara minyak per hari (MBOEPD), lebih rendah dari target APBN 2025 sebesar 1.005 MBOEPD.
Capaian lifting gas tersebut tidak termasuk NGL karena telah diperhitungkan sebagai bagian dari lifting minyak bumi. Meski berada di bawah target, Bahlil menyatakan Indonesia tetap tidak melakukan impor LNG sepanjang 2025.
Ia mengungkapkan, pada awal tahun sempat muncul rencana impor LNG sebanyak 40–50 kargo akibat dinamika pasokan. Namun, defisit LNG terjadi karena lonjakan permintaan domestik yang melampaui perencanaan awal, sementara sebagian wilayah kerja gas telah terikat kontrak ekspor.
Kontrak ekspor tersebut disepakati pada fase perencanaan pengembangan atau plan of development (POD), saat pasar domestik belum mampu menyerap LNG yang dihasilkan. Kondisi ini membuat eksportir harus mengamankan kepastian pasar sejak awal.
Untuk menjaga pasokan dalam negeri, pemerintah memutuskan menunda sejumlah kargo ekspor LNG ke 2026. Kebijakan ini memastikan kebutuhan domestik terpenuhi sehingga Indonesia tidak mengimpor LNG sepanjang 2025. “Berkat kerja keras bersama, tahun 2025 kita tidak melakukan impor gas,” ujar Bahlil.












