PT Polytama Propindo selaku produsen resin polipropilena terkemuka di Indonesia yang memproduksi resin dengan merek Masplene, terus memperkuat komitmennya dalam membangun budaya keselamatan. Hal itu juga sekaligus meningkatkan kapasitas masyarakat melalui kolaborasi dengan dunia pendidikan dan pemerintah.
Langkah tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Polytama Fire & Safety Goes to Campus 2026 yang digelar di Stikes Indramayu.
Kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka memperingati International Firefighters’ Day tersebut menjadi ruang sinergi antara dunia industri, institusi pendidikan, dan pemerintah untuk memperluas edukasi mengenai keselamatan kerja, kesiapsiagaan bencana, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia menghadapi berbagai potensi risiko.
Kegiatan itu diikuti oleh 130 peserta. Mereka terdiri atas mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Indramayu serta perwakilan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Indramayu.
Kolaborasi lintas sektor tersebut menjadi bukti bahwa upaya membangun budaya keselamatan membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan. Dunia usaha, pemerintah, dan akademisi memiliki peran strategis dalam menciptakan masyarakat yang semakin tangguh terhadap potensi bencana.
Kegiatan itu juga diisi seminar interaktif. Karenanya, para peserta memperoleh pemahaman komprehensif mengenai manajemen kebencanaan, kesiapsiagaan darurat, hingga penerapan budaya keselamatan yang telah menjadi bagian dari operasional Polytama.
Rangkaian seminar dibuka oleh BPBD Kabupaten Indramayu yang memaparkan materi mengenai Manajemen Bencana di Kabupaten Indramayu. Yakni, mencakup berbagai potensi bencana di wilayah tersebut beserta strategi penanggulangannya.
Selanjutnya, Polytama menghadirkan sesi khusus mengenai inovasi Polyga (Polytama Siaga) sebagai salah satu bentuk kontribusi perusahaan dalam mendukung mitigasi bencana berbasis masyarakat. Perusahaan juga memberikan materi mengenai Emergency Preparedness di Polytama, yang menjelaskan implementasi budaya keselamatan, sistem tanggap darurat, serta berbagai langkah kesiapsiagaan perusahaan dalam menghadapi kondisi darurat.
Seminar kemudian ditutup oleh Stikes Indramayu melalui materi mengenai peran tenaga kesehatan dalam penanganan kegawatdaruratan dan kebencanaan. Dengan demikian, peserta memperoleh perspektif yang utuh mengenai pentingnya kolaborasi lintas disiplin.
Salah satu perhatian utama dalam kegiatan tersebut adalah diperkenalkannya Polyga sebagai inovasi yang dikembangkan Polytama melalui pemanfaatan sekitar 10 persen sampah produksi fine polymer menjadi bahan baku alat ukur tinggi muka air. Inovasi tersebut menjadi implementasi nyata prinsip ekonomi sirkular, yaitu mengolah material sisa produksi menjadi produk yang memiliki manfaat langsung bagi masyarakat sekaligus mendukung upaya pengurangan risiko bencana.
Polyga dirancang sebagai instrumen pendukung sistem peringatan dini (early warning instrument) terhadap potensi banjir. Dengan demikian, masyarakat memiliki sarana sederhana untuk memantau perubahan tinggi muka air.
Melalui indikator yang mudah dipahami, masyarakat diharapkan mampu mengenali potensi peningkatan risiko banjir sejak dini sehingga dapat meningkatkan kewaspadaan sebelum kondisi berkembang menjadi lebih serius.
Selain itu, hasil pemantauan masyarakat dapat dilaporkan kepada pemerintah desa, BPBD, maupun pemangku kepentingan terkait sebagai dasar koordinasi dan tindak lanjut dalam pelaksanaan mitigasi bencana. Dengan demikian, inovasi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai alat ukur, tetapi juga menjadi sarana yang memperkuat kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha dalam membangun sistem mitigasi yang lebih efektif.
Lebih dari sekadar inovasi teknologi, Polyga juga menjadi media edukasi yang mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan sekaligus membangun budaya kesiapsiagaan terhadap bencana. Program itu dirancang untuk diterapkan di wilayah Ring 1 Polytama, khususnya kawasan yang memiliki potensi terdampak banjir sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat sekitar perusahaan.
Direktur Polytama, Dwinanto Kurniawan, mengatakan, keselamatan merupakan nilai utama yang terus dipegang perusahaan, tidak hanya dalam operasional bisnis tetapi juga melalui kontribusi nyata kepada masyarakat.
“Kolaborasi bersama institusi pendidikan dan pemerintah menjadi langkah penting untuk memperkuat literasi keselamatan, meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana, sekaligus menghadirkan inovasi yang memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat,” tegas Dwinanto.
Ia menambahkan, pengembangan Polyga merupakan wujud komitmen perusahaan dalam mengimplementasikan prinsip ekonomi sirkular melalui pemanfaatan material sisa produksi menjadi solusi yang memiliki nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan dan pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat. Melalui kegiatan Polytama Fire & Safety Goes to Campus 2026, perusahaan berharap semangat kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah, akademisi, dan masyarakat dapat terus berkembang untuk memperkuat budaya keselamatan di berbagai lapisan.
Kedepan, Polytama akan terus memperkuat komitmennya dalam menghadirkan berbagai program edukasi, inovasi, dan kolaborasi bersama para pemangku kepentingan sebagai bagian dari upaya membangun budaya keselamatan, mendukung keberlanjutan, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan.












