Di masa sekarang, penting bagi masyarakat untuk memiliki kecakapan literasi digital. Terlebih, di masa pandemi ini, hampir semua kegitan dialihkan secara daring. Otomotis, hampir semua kalangan masyarakat menggunakan media digital untuk melanjutkan kehidupan. Tak terkecuali di bidang pendidikan, ekonomi, dan lainnya.
Sayangnya, internet semakin dipenuhi konten berbau berita bohong, ujaran kebencian, dan radikalisme, bahkan praktik-praktik penipuan. Keberadaan konten negatif yang merusak stigma dunia maya saat ini hanya bisa ditangkal dengan membangun kesadaran dari tiap-tiap individu.
Dengan memiliki kecakapan literasi digital, masyarakat dapat memproses berbagai informasi, memahami pesan, dan berkomunikasi efektif dengan orang lain dalam berbagai bentuk. Literasi digital akan menciptakan tatanan masyarakat dengan pola pikir dan pandangan yang kritis maupun kreatif. Mereka tidak akan mudah termakan oleh isu provokatif, menjadi korban informasi hoaks, atau korban penipuan yang berbasis digital.
“Dunia digital ini membawa perubahan besar, perkembangan pesat dan masuk dalam aspek kehidupan kita sehari-hari. Maka kemampuan kita berinteraksi harus ditentukan lagi. Nggak bisa cuma diam dan tidak memaksimalkan perangkat gawai yang kita punya,” ujar Mira Sahid, Penggiat Literasi Digital Waketum Siberkreasi, Founder Kumpulan Emak Blogger.
Mira berbicara dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital wilayah Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Kamis (3/6/2021). Webinar ini adalah hasil kerjasama Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan Siberkreasi. Ada empat pilar digital yang ditekankan yaitu digital skill, digital safety, digital ethic dan digital culture.
Penuturan Mira tersebut disambut baik Vivid Sambas, ST, MMT dari Mafindo. Ia memberikan tips bagaimana sikap kita seharusnya saat menerima informasi di dunia digital. Baca lengkap adalah hal penting dari sebuah konten.
“Baca dan lihat menyeluruh, jangan hanya membaca judul. Cari sumber beritanya dari media kredibel atau tidak? Apakah ada tautan? Jika ragu jangan diteruskan, jika benar lihat dulu manfaatnya apa untuk disebarkan? Kamu dapat memberi pesan secara pribdi juga kepada penyebarnya jika menurutmu perlu dan bisa memberikan relevansi,” terang Vivid.
Karenanya diperlukan kesadaran dari diri sendiri sebelum menunjuk orang lain. Apakah kita sudah cukup cakap bermedia sosial? Tapi jangan salah, kecakapan ini harus terus di-upgrade dari waktu ke waktu. Dunia digital terus berkembang dalam hitungan detik.
“Langkah efektif membangung habit baik yaitu mengganti kebiasaan negatif menjadi positif. Jangan pernah mengulang perilaku negatif,” tutur Astini Kumalasari, M.I.Kom, UDINUS Semarang, Travel Blogger, Komite Anugera Pesona Indonesia.
Lalu bisakah konten positif jadi budaya kita? Tentu saja bisa. Selain ada undang-undang yang mengatur hukuman bagi orang-orang yang berbuat negatif, sebaiknya membuat hukuman digital. Seperti memperkuat traffic media sosial seseorang untuk konten positif dan menurunkan traffic untuk konten negatif.
Sayangnya pelaku yang viral dengan konten negatif terutama di Indonesia malah mendapatkan “panggung”, setelah itu terkenal dan meraih pundi dari hal negatif. Perhatian yang membuat orang tersebut terkenal dan kemudian hal bodoh serupa diikuti orang lain Intinya jadikanlah membuat konten positif menjadi sebuah kebiasaan atau budaya kita.
Turut hadir dalam webinar, Muh. Nurhajar Muharom Relawan TIK Indonesia dan Yohana Djong, Digital Marketing, Content Creator. Keduanya menyinggung tentang pentingnya menjaga jejak digital.
Karena siapapun yang berkelana di dunia digital pasti tidak akan lolos dari jejak digital. Namun bagaimana caranya agar tetap meninggalkan jejak yang positif dan aman. Literasi digital juga harus lebih digalakkan lagi untuk menjangkau usia-usia 40 tahun ke atas yang sudah merasa cukup nyaman dengan pilihan mereka.