Media sosial merupaka teknologi interaktif yang memungkinkan penciptaan kreativitas, berbagi pertukaran informasi, ide, minat karier dan bentuk ekspresi lainnya melalui komunitas dan jaringan virtual. Bagaimana literasi digital khususnya dalam mengakses media sosial sangat penting karena ada 170 juta keanggotaan di media sosial yang aktif di Indonesia. Menurut, data pada awal tahun 2021 lalu, jumlah pengguna media sosial itu mengalami pertumbuhan yang pesat sebanyak 61,8%.
Theo Derick, CEO & Founder Coffee Meets Stocks memprediksikan jumlah pengguna media sosial menjelang akhir tahun ini mencapai 200 juta keanggotaan. Jadi banyak peluang, jika pengusaha ingin melebarkan sayap dari sisi kecakapan ada 200 juta pangsa pasar, 200 juta orang kesempatan yang dapat diambil dari segi bisnis pun dari segi networking.
Begitu juga keamanannya, bagaimana seseorang menjaga diri di dalam dunia digital seperti masuk ke samudra luas yang banyak.
“Kita harus tahu cara berenangnya, jaga-jaga ketika ada ombaknya. Sangat bahaya karena kalau kita ambil sisi pandang orang yang punya niat jahat seperti para pebisnis, pasarnya ada 200 juta, gimana tidak menggiurkan. Makanya pertumbuhan pengguna sama pertumbuhan kejahatan pasti biasanya berjalan barengan,” jelas Theo saat mengisi webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat (17/9/2021).
Kejahatan umum yang terjadi pada media sosial yang sering terjadi ialah teror dan ancaman. Semakin mengerikan jika ini berasal dari orang yang tidak mengenal kita namun seakan mengenal baik kita.
Ini sebenarnya sangat erat dengan etika, melakukan oversharing dan over posting yang tanpa disaring sering kita lakukan. “Itulah jembatan yang menjadi orang yang tidak kita kenal itu mengetahui semua tentang diri kita meskipun secara fisik belum belum pernah ketemu,” tambahnya
Kecuali public figure, artis, kreator konten itu memang risiko kita untuk selalu oversharing karena untuk pekerjaan. Pastinya mereka mempunyai keamanan berlapis juga karena seorang public figure. Kalau bukan untuk urusan pekerjaan tetapi hanya sekedar untuk senang-senang sebaiknya tidak kita lakukan.
Kejahatan selanjutnya penguntit atau stalking, bukan hanya sekadar membuka profil seseorang yang memang sekadarnya karena ingin melihat secara sekilas karena rupawan. Tapi seseorang yang sangat terobsesi pada orang itu. Yang terparah apabila calon korbannya tidak menerapkan etika digital. Dia dengan bebas mem-posting apa saja yang dilakukan sehari-hari sehingga memang sangat mudah untuk penguntit melancarkan aksinya. Jika kita membuat konten positif ataupun negatif pasti ada saja yang menyinyir atau memberikan feedback negatif.
“Kita harus menyadari di dunia ini hal yang seperti itu sangat mungkin wajar terjadi. Yang harus kita perhatikan adalah bagaimana cara kita menanggapi para perundung. Saran saya adalah kita tidak perlu membalas dengan umpatan lagi kita cukup bilang berterima kasih atau jika sudah mengganggu kita bisa block. Intinya jangan sampai kita berdebat hanya karena mereka mengomentari karya kita lalu kita balik membalas dan mereka terus-terusan juga akan membully kita,” jelasnya.
Selanjutnya, peretasan atau hacking, jangan pernah menganggap karena kita bukan siapa-siapa lantas kita abai akan keamanan. Sekarang cara mudah mengamankan akun dengan mengaktifkan two factor authentication.
Kalaupun password kita sudah diketahui orang lain mereka masih harus melewati satu tahap lagi untuk bisa mengakses akun yaitu dengan mengirimkan kode akses atau disebut dengan one time password (OTP). Akan ada banyak penipuan menggunakan rekayasa sosial untuk meminta kode OTP. Jangan pernah membagikan apapun kode yang datang melalui SMS atau WhatsApp kepada orang lain dengan alasan apapun.
Webinar juga menghadirkan pembicara Satria Andika (Jawara Internet Sehat Jawa Barat), Bambang Iman Santoso (CEO Neuoronesia Learning Center), Littani Wattimena ( Brand & Communication Strategist), dan Ida Rhinjsburger sebagai Key Opinion Leader.












