Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah Sulawesi Utara pada Kamis pagi dikategorikan sebagai gempa megathrust, yakni jenis gempa besar yang terjadi di zona subduksi antar lempeng tektonik. Karakter gempa ini dikenal memiliki daya rusak tinggi serta berpotensi memicu tsunami, terutama ketika terjadi di wilayah laut dengan kedalaman relatif dangkal.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa terjadi pada pukul 05.48 WIB dengan pusat di koordinat 1,25 Lintang Utara dan 126,27 Bujur Timur. Episenter berada di laut dengan kedalaman sekitar 62 kilometer, namun secara karakteristik tetap tergolong gempa dangkal yang signifikan dalam memicu dampak luas di permukaan.
Direktur Informasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG menegaskan bahwa gempa ini memiliki mekanisme sesar naik (thrust fault) yang berasal dari aktivitas subduksi Laut Maluku. “Gempa dengan mekanisme naik memiliki potensi tsunami yang lebih tinggi dibandingkan dengan mekanisme mendatar,” ujarnya dalam konferensi pers.
Secara geologis, gempa megathrust terjadi akibat akumulasi energi di zona pertemuan lempeng samudra dan benua. Ketika energi tersebut dilepaskan, dampaknya dapat sangat besar, tidak hanya dalam bentuk getaran kuat, tetapi juga pergerakan vertikal dasar laut yang memicu gelombang tsunami.
BMKG mengidentifikasi tiga provinsi yang paling terdampak oleh gempa ini, yaitu Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Maluku Utara. Ketiganya berada di kawasan utara Sulawesi yang berdekatan langsung dengan sumber gempa di Laut Maluku, sehingga merasakan guncangan signifikan serta potensi dampak lanjutan.
Peringatan dini tsunami sempat dikeluarkan BMKG untuk beberapa wilayah pesisir sebagai langkah mitigasi cepat. Dalam catatan awal, terdeteksi adanya kenaikan muka air laut di beberapa titik, meskipun masih dalam skala terbatas. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat karakter gempa megathrust yang dapat berkembang cepat.
Secara global, data dari lembaga riset seperti USGS menunjukkan bahwa sekitar 90% gempa bumi terbesar di dunia terjadi di zona subduksi, termasuk kawasan “Ring of Fire” yang melingkari Indonesia. Indonesia sendiri berada di pertemuan tiga lempeng besar dunia, sehingga memiliki lebih dari 13 segmen megathrust aktif yang terus menyimpan energi tektonik signifikan.
Riset terbaru juga menunjukkan bahwa potensi gempa megathrust di Indonesia dapat mencapai magnitudo di atas 8,0 jika terjadi pelepasan energi secara penuh di segmen tertentu. Kondisi ini menegaskan pentingnya sistem peringatan dini, kesiapsiagaan masyarakat, serta penguatan infrastruktur mitigasi bencana untuk meminimalkan risiko korban dan kerugian di masa mendatang.












