Kunjungan Prabowo Subianto ke Korea Selatan menghasilkan komitmen investasi besar dengan total nilai lebih dari US$10,2 miliar atau sekitar Rp173 triliun. Kesepakatan ini mencerminkan penguatan hubungan ekonomi bilateral sekaligus mempertegas posisi Indonesia sebagai tujuan investasi strategis di kawasan Asia.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa kerja sama tersebut dituangkan dalam berbagai nota kesepahaman lintas sektor. “Dalam pertemuan tersebut ditandatangani memorandum of understanding dengan nilai US$10,2 miliar,” ujarnya.
Sektor energi menjadi salah satu fokus utama, terutama dalam pengembangan energi baru terbarukan, solar power, serta teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (carbon capture and storage/CCS). Langkah ini sejalan dengan agenda transisi energi Indonesia menuju target net zero emission pada 2060.
Selain energi, kerja sama juga mencakup sektor industri dan manufaktur, termasuk pengembangan baja, baterai kendaraan listrik, serta transportasi ramah lingkungan. Investasi pada sektor ini dinilai krusial untuk memperkuat rantai pasok industri nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah dalam negeri.
Beberapa proyek strategis yang disepakati antara lain kerja sama Pertamina Hulu Energi dengan ExxonMobil dalam pengembangan CCS senilai US$3 miliar, serta ekspansi tahap kedua Krakatau POSCO yang didukung POSCO dengan nilai investasi mencapai US$4 miliar.
Di sektor properti dan kawasan industri, kolaborasi antara Sinar Mas Land dan Daewoo untuk pengembangan BSD City senilai US$867 juta menjadi salah satu proyek penting yang menunjukkan kepercayaan investor terhadap pasar domestik Indonesia.
Kerja sama juga merambah sektor ekonomi baru seperti ekosistem aset digital, material baterai, hingga manufaktur produk konsumen. Investasi dari perusahaan seperti Ecopro dan LS MnM memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global kendaraan listrik, khususnya dalam pengolahan nikel dan material baterai.
Secara global, tren investasi menunjukkan peningkatan signifikan pada sektor energi bersih dan kendaraan listrik. Data International Energy Agency (IEA) menyebutkan investasi global di energi bersih telah melampaui US$1,7 triliun per tahun, sementara permintaan baterai kendaraan listrik tumbuh lebih dari 30% secara tahunan. Dengan masuknya investasi besar dari Korea Selatan, Indonesia berpeluang mempercepat industrialisasi berbasis energi hijau sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi di tingkat global.












