PT Polytama Propindo, perusahaan petrokimia yang berfokus pada produksi resin polypropylene (PP), terus memperkuat industri petrokimia nasional melalui langkah strategis pengembangan kapasitas produksi.
Komitmen tersebut ditandai dengan pelaksanaan Engineering, Procurement, and Construction (EPC) Contract Signing Proyek Polypropylene Plant Balongan (PPB) dengan Konsorsium Wuhuan – ETI, di Jakarta, pada Selasa, 19 Mei 2026.
Proyek PPB akan menjadi tonggak penting bagi pertumbuhan industri petrokimia nasional sekaligus memperkuat ketahanan industri dalam negeri. Melalui proyek PPB, Polytama akan membangun pabrik polipropilena kedua dengan kapasitas produksi sebesar 300 ribu ton per tahun. Setelah proyek selesai, total kapasitas produksi perusahaan diproyeksikan meningkat dua kali lipat menjadi 600 ribu ton per tahun.
Presiden Direktur Polytama Propindo Permono Avianto menyampaikan, sebagai perusahaan petrokimia yang merupakan bagian dari Grup Pertamina, peningkatan kapasitas produksi menjadi bagian dari strategi jangka panjang Polytama dalam menjawab kebutuhan polypropylene domestik yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
” Penandatanganan kontrak EPC ini juga menunjukkan optimisme dan konsistensi Polytama di tengah tantangan situasi global yang saat ini masih diwarnai ketidakpastian geopolitik dan dinamika sektor energi internasional,” ungkapnya
Di tengah kondisi tersebut, kata Permono, Polytama tetap menjaga fokus untuk memastikan seluruh agenda korporasi berjalan tepat waktu dan sesuai target.
Dukungan dan sinergi kuat bersama Grup Pertamina, termasuk dukungan dari PT Pertamina Patra Niaga serta PT Tuban Petrochemical Industries, menjadi fondasi yang memastikan keberlangsungan operasional maupun pengembangan bisnis perusahaan dapat terus berjalan secara optimal.
Dia mengatakan, Dalam kondisi global yang turut memengaruhi rantai pasok energi dan petrokimia dunia, dukungan penyaluran propylene dari ekosistem Pertamina menjadi sangat strategis bagi Polytama. Di saat prioritas energi nasional diarahkan untuk menjaga ketahanan energi dan optimalisasi produksi LPG di berbagai kilang, Polytama tetap memperoleh dukungan pasokan bahan baku sehingga operasional produksi polipropilena perusahaan dapat terus terjaga dengan baik.
Permono Avianto menyampaikan, penandatanganan kontrak EPC bentuk nyata komitmen bersama dalam memperkuat masa depan industri petrokimia Indonesia melalui pengembangan proyek strategis nasional.
“ Momentum ini menjadi langkah penting bagi Polytama untuk terus tumbuh dan memperkuat kontribusi terhadap industri petrokimia nasional. Kami optimistis proyek PPB akan menjadi fondasi penting bagi penguatan industri hilir nasional di masa depan,” ujarnya.
Polytama optimis pengalaman dan kapabilitas yang dimiliki Konsorsium Wuhuan – ETI menjadi modal penting untuk memastikan proyek berjalan sukses. Polytama menegaskan bahwa proyek PPB akan dijalankan dengan prinsip On Time, On Budget, On Safety, On Regulation, dan On Return, sebagai komitmen perusahaan terhadap pelaksanaan proyek yang berkualitas, aman, dan berkelanjutan.
Setelah penandatanganan kontrak EPC ini, tim akan bergerak dengan koordinasi yang kuat, komunikasi yang efektif, serta mitigasi risiko yang proaktif agar momentum pengembangan proyek tetap terjaga hingga tahap penyelesaian. Peningkatan kapasitas produksi Polytama juga sejalan dengan visi pemerintah pentingnya transformasi dari negara eksportir bahan mentah menjadi produsen barang bernilai tambah. Dalam konteks ini, Polytama menunjukkan komitmen untuk membangun fondasi industri petrokimia yang tangguh sebagai pilar ekonomi nasional.
Peningkatan kapasitas tersebut akan menjadikan Polytama sebagai produsen polipropilena terbesar di Indonesia. Langkah ini sekaligus memperkuat posisi perusahaan sebagai salah satu pemain utama industri petrokimia nasional yang memiliki peran strategis dalam mendukung kebutuhan industri dalam negeri.
Sejalan dengan pertumbuhan kelas menengah industri, termasuk kemasan tangan higienis, alat medis, dan komponen otomotif, maka keandalan pasokan bahan baku yang sepenuhnya dari dalam negeri akan mampu menghemat devisa, sekaligus mengurangi defisit neraca perdagangan.
Proyek PPB dirancang untuk memproduksi berbagai jenis produk polipropilena berkualitas tinggi seperti homopolymer, block copolymer, random copolymer, dan terpolymer yang digunakan untuk berbagai kebutuhan industri dan konsumen.
Melalui EPC Contract Signing Proyek Polypropylene Plant Balongan ini, Polytama menegaskan optimisme untuk terus tumbuh bersama industri nasional, memperkuat ketahanan industri petrokimia Indonesia, sekaligus menghadirkan kontribusi nyata bagi kemandirian ekonomi dan penguatan daya saing industri nasional.
Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo menegaskan, Pertamina melalui Subholding Downstream memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan bisnis produksi biji plastik polipropilena sebagai bagian dari strategi penguatan industri petrokimia nasional.
Dukungan tersebut diwujudkan melalui kesiapan pasokan bahan baku dari kilang eksisting Pertamina, serta pengembangan kapasitas kilang ke depan termasuk dari proyek RDMP Balikpapan. Pembangunan Polypropylene Plant Balongan berkapasitas 300 ribu ton per tahun sebagai langkah strategis dalam mengurangi ketergantungan impor polipropilena nasional.
PPB juga bagian integral dari optimalisasi pemanfaatan polipropilena dari kilang-kilang domestik Pertamina, baik dari revitalisasi RCC RU VI Balongan, RU IV Cilacap, maupun pengembangan RDMP RU V Balikpapan.
Ega Legowo menjelaskan, proyek ini tidak hanya memperkuat ketahanan industri nasional, tetapi juga meningkatkan profitabilitas Pertamina di rantai bisnis petrokimia dari hulu hingga hilir, mulai dari produksi, pemasaran, hingga distribusi produk petrokimia.
” Pertamina berkomitmen penuh untuk memastikan proyek ini dapat berjalan tepat waktu sesuai target yang telah ditetapkan. Kami menargetkan onstream untuk lingkup EPCC Jetty pada September 2026, dan target onstream penuh untuk fasilitas Polypropylene Plant pada Kuartal I tahun 2029,” ucap Ega.
Presiden Direktur PT Tuban Petrochemical Industries, Sukriyanto, menegaskan bahwa pengembangan kapasitas Polytama memiliki nilai strategis yang sangat besar, tidak hanya bagi perusahaan tetapi juga bagi penguatan industri nasional. Dengan pengembangan kapasitas ini, kontribusi terhadap pengurangan impor polypropylene akan semakin signifikan.
Selain itu, proyek PPB juga akan memperkuat agenda hilirisasi industri nasional yang saat ini terus didorong pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah sektor energi dan petrokimia di dalam negeri. Dukungan dari Tuban Petro dan Grup Pertamina akan terus diperkuat agar proyek dapat berjalan sesuai target dan memberikan manfaat jangka panjang bagi industri nasional.
Chairman Wuhuan Engineering, Yu Xin, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan untuk menjadi mitra pelaksana proyek PPB. Dengan pengalaman dan kemampuan yang dimiliki perusahaan, Wuhuan berkomitmen mendukung penyelesaian proyek secara tepat waktu, aman, dan sesuai standar kualitas yang ditetapkan.












