Sebuah material yang sebelumnya berada di sisi lain dari proses produksi kini mendapatkan fungsi yang berbeda. Limbah produksi Fine Polymer dikembangkan menjadi bahan baku yang dapat dimanfaatkan untuk pembuatan kaki palsu melalui program SATE LEBAH atau Strategi Tepat Pengelolaan Limbah yang dikembangkan PT Polytama Propindo.
Perubahan fungsi tersebut tidak berhenti pada persoalan pemanfaatan material. Program ini mempertemukan isu lingkungan dengan kebutuhan sosial melalui Program Setara: Sinergi Kawan Inklusi, yang melibatkan kawan difabel di Indramayu dalam ekosistem produksi kaki palsu.
Di dalam ekosistem tersebut, masyarakat difabel tidak ditempatkan semata-mata sebagai penerima manfaat. Mereka dilibatkan sebagai bagian dari proses yang menghubungkan material, produksi, kebutuhan pengguna, hingga pemanfaatan kaki palsu. Atlet Paralimpik juga menjadi bagian dari rangkaian kolaborasi tersebut.
Bagi Polytama, pendekatan seperti ini berangkat dari cara pandang bahwa persoalan lingkungan dapat memiliki dimensi sosial. Material yang semula menjadi bagian dari tantangan pengelolaan produksi dicari kemungkinan pemanfaatan barunya agar memiliki nilai guna sekaligus dapat membuka ruang bagi kelompok masyarakat untuk berperan.
Direktur Polytama Propindo Dwinanto Kurniawan mengatakan gagasan tersebut sejalan dengan cara perusahaan melihat inovasi.
“Bagi Polytama, inovasi bukan hanya tentang menghasilkan sesuatu yang baru, tetapi tentang bagaimana inovasi tersebut mampu menjawab kebutuhan, memberikan manfaat, dan menciptakan nilai yang berkelanjutan bagi masyarakat, lingkungan, maupun perusahaan,” ujarnya.
Cerita SATE LEBAH juga menunjukkan bahwa solusi untuk persoalan lingkungan tidak selalu harus berdiri sendiri. Ketika pengelolaan limbah dipertemukan dengan kebutuhan masyarakat, muncul kemungkinan untuk menciptakan manfaat yang lebih luas.
Dalam pengembangannya, Polytama melibatkan sejumlah pihak untuk membangun ekosistem tersebut. Masyarakat, perusahaan, produsen kaki palsu, dan atlet Paralimpik memiliki peran masing-masing dalam menciptakan model pemberdayaan yang lebih partisipatif.
“Kolaborasi antara perusahaan, masyarakat, produsen kaki palsu, dan atlet Paralimpik menjadi fondasi penting dalam menciptakan model pemberdayaan yang partisipatif dan inklusif,” tegas Dwinanto.
Manager GA & Community Development Polytama M. Andri Nugroho mengatakan SATE LEBAH menjadi salah satu upaya perusahaan untuk memperlihatkan bahwa pengelolaan limbah dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang memberikan manfaat lebih luas.
Menurut Andri, pemanfaatan material Fine Polymer untuk pembuatan kaki palsu sekaligus membuka ruang pemberdayaan bagi kawan difabel. Dengan pendekatan tersebut, isu lingkungan dan inklusi sosial ditempatkan dalam satu rangkaian kegiatan yang saling berkaitan.
Upaya Polytama dalam mengembangkan manfaat lingkungan juga dilakukan melalui WISE-UP (Waste Initiative for Sustainable Environment and Urban Progress). Program ini menggabungkan edukasi, pengelolaan sampah berbasis 3R, energi terbarukan, dan pemanfaatan teknologi untuk menjawab persoalan lingkungan di Indramayu.
Pengembangan tersebut kemudian diperluas melalui pengelolaan kawasan dan lingkungan, termasuk Taman Kehati serta ruang terbuka hijau berbasis masyarakat. Ruang tersebut sekaligus menjadi wadah untuk membuka partisipasi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Bagi Polytama, pendekatan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat menjadi bagian dari upaya membangun hubungan jangka panjang dengan komunitas di sekitar wilayah operasional. Program-program tersebut diarahkan agar manfaatnya tidak berhenti pada kegiatan perusahaan, tetapi dapat menciptakan ruang partisipasi bagi masyarakat.
Di balik material yang berubah fungsi menjadi bagian dari kaki palsu, terdapat cerita yang lebih besar tentang bagaimana sebuah limbah dapat menemukan kegunaan baru ketika dipertemukan dengan kebutuhan manusia. SATE LEBAH menjadi salah satu contoh bagaimana persoalan produksi, lingkungan, dan inklusi dapat dipertautkan melalui kolaborasi.












