Untuk memulai bisnis kuliner, hal pertama yang dilakukan adala menentukan target market. Apa yang ingin disasar? Apakah kelas A, B atau C? Matangkan target baru kemudian membuat konsep. Karena setiap target market memiliki konsep yang berbeda untuk dicapai.
Misalnya, kelas B berarti konsepnya harus sesuai dengan market kelas B jangan konsep contohnya seperti angkringan tidak sesuai. Terlalu mewah juga tidak sesuai karena kelas B termasuk medium jadi bisa konsep restoran yang santai namun tetap berkelas.
“Kemudian cari tempatnya atau letak geografisnya yang baik dan tepat. Contoh kita mau kelas A tetapi di dalam mall akan kurang cocok. Kelas tinggi biasanya di tempat tersendiri. Target usia pasar juga bisa kita tentukan dari tempat. Target resto usia 23- 38 tahun karena di daerah Tebet dan Jaksa di daerah Jakarta Selatan terutama di Tebet ini banyakan sih umuran segitu. Mereka masih senang nongkrong untuk ngopi sekaligus makan,” jelas Rafi Faudy Saifullah Sjukrie Founder Tipsen Coffee and Eatery saat mengisi webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (16/9/2021).
Target spesifik lainnya sebenarnya tergantung dari pemilik, seperti Rafi karena dia juga seorang intruktur selam sehingga target marketnya lagi ialah penyelam. Maka target marketnya adalah kelas A dan B dengan sekolah selam dan studio.
Selain itu ia menganalisis atau mencari tahu sebuah daerah cocoknya seperti apa. Makanan favorit di satu daerah dan kisaran harga sehingga dapat menyesuaikan. Sebab ada beberapa daerah yang terkenal mahal karena memang orang-orang di sana kelas A misalnya dekat dengan perkantoran atau perumahan elit.
Kemudian planning atau mereview lagi target pasar analisis pasar menjelang rencana yang ingin dibuat, serta terakhir budgeting.
“Budgeting ini sangat penting karena berhubungan langsung dengan kelangsungan hidup usaha kita. Bagusnya budgeting sekalipun pandemi tidak akan bisa meruntuhkan bisnis kita. Melewati PPKM itu tidak gampang terjadi beberapa bulan, pengusaha tidak bisa berbisnis. Tetapi kalau planning dan budgeting sesuai kemungkinan dapat melewati hal-hal yang tidak diinginkan seperti pandemi yang terjadi sekarang,” pungkasnya.
Webinar juga menghadirkan pembicara Byrlina Gyamirti (Peneliti SDM), Oriza Sativa (Psikolog), Felix Kusmanto (peneliti SDM), dan Sari Hutagalung sebagai Key Opinion Leader.












