Dewasa ini, kondisi digitalisasi Indonesia dianggap sebagai negara dengan digital ekonomi terbesar di ASEAN. Hampir tiga per empat populasi Indonesia telah tersentuh akses internet.
Banyaknya pengguna internet tersebut turut mengubah wajah ekonomi dunia dengan munculnya sharing economy, e-education, e-government, cloud, marketplace, online health services, smart city dan e-payment.
“Dari sekian banyak aktivitas ekonomi dunia di era digital ini, yang bisa kita simpulkan adalah perilaku manusia saat ini sebesar 80 persen mencari informasi produk menggunakan mesin pencarian,” ujar Lia Najib seorang relawan TIK Cianjur, saat menjadi pembicara dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Jumat (24/9/2021).
Di samping banyaknya pencarian melalui mesin pencarian, aktivitas manusia yang serba digital juga turut mempengaruhi pertumbuhan bisnis online sebanyak 80 persen. Sebelum adanya internet, ketika kita ingin membuka usaha atas bisnis perlu memikirkan biaya-biaya yang terbilang cukup besar, seperti sewa toko dan perlengkapan penunjang lainnya. Namun, di era digital kita bisa meminimalisir biaya itu selama memiliki platform untuk berjualan yang dijadikan sebagai toko online.
Membangun usaha di era digital hanya butuh skill dasar seperti memahami penggunaan marketplace sebagai tempat kita berjualan. Selain mudahnya membangun usaha online, ternyata di masa mendatang pekerjaan pun akan banyak yang berubah. Kebanyakan pekerjaan di masa depan memanfaatkan dan memaksimalkan akses internet.
“Teknologi yang begitu cepat bertransformasi akan membuat manusia memiliki ide dan gagasan yang lebih melesat dan potensial di masa depan,” ungkapnya.
Perilaku manusia di zaman sekarang apa-apa serba digital. Segalanya menjadi mudah karena adanya mesin pencari. Fitur mesin pencari sekarang sudah melekat dengan kehidupan kita. Dalam menyukseskan usaha, kita bisa memasukkan nama beserta informasi toko kita ke dalam mesin pencari agar lebih mudah untuk ditemukan.
Webinar juga menghadirkan pembicara Dian Nurawaliah Sonjaya (Founder Maleeha Skincare), Rabindra Soewardana (Dorektur OZ Radio Bali), Felix Kusmanto (Praktisi SDM), dan Deya Oktaria sebagai Key Opinion Leader.












