Transformasi digital yang terjadi di Indonesia memang harus disikapi oleh masyarakat dengan beradaptasi menjalani hidup agar lebih mudah. Adaptasi yang salah satu harus dilakukan ialah meningkatkan kewaspadaan pada kejahatan di dunia maya.
Dalam menjalani hidup kewaspadaan kita bertambah bukan hanya bukan hanya saat di dunia nyata namun juga menjaga perangkat digital beserta data diri kita juga saat di ruang digital. Sebab begitu banyak kejahatan di dunia digital berbagai modus penipuan digital yang saat ini kasusnya semakin meningkat di Indonesia. Seperti penawaran publikasi ilmiah, salah kirim pulsa, transfer palsu kuota gratis, penipuan berkedok hadiah atau menang undian, informasi lowongan pekerjaan dan informasi bantuan.
Ada juga pelelangan barang dengan mengatasnamakan lembaga resmi kredit murah atau pinjaman daring, investasi palsu, teknisi palsu. Saat berbelanja barang tidak dikirim juga bagi para penjual online, pembeli dengan bukti transfer yang fiktif.
Kreator Konten, Gunawan Lamri yang juga CEO PT. Kuliner Anak Indonesia menjelaskan, kejahatan digital sendiri sebenarnya terbagi menjadi 4 ada scam, spam, phishing dan hacking.
Pertama, scam dengan memanfaatkan empati dan kelemahan pengguna metodenya beragam bisa menggunakan telepon, SMS, WhatsApp, email maupun surat berantai. Beberapa varian scam di antaranya romance game yang dikembangkan dari Nigerian Scam.
“Sangat populer di negara Nigeria yang diadopsi oleh para oknum di Indonesia. Jadi mereka itu memang jago akting, bisa saja si pelaku meminta uang dengan alasan urgent yang terjadi pada keluarga kita dengan menangis atau mendesak yang memainkan diri kita secara psikis,” ungkapnya saat menjadi pembicara dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Kamis (30/9/2021).
Contoh penipuan dari Nigeria lainnya, mereka pura-pura mengirimkan barang untuk korban. Namun tertahan di imigrasi, para pelaku meminta uang untuk barang yang tertahan agar segera dikirim ke korban.
Kemudian kejahatan spam yang bisa terjadi dalam beragam bentuk informasi mengganggu yang berbentuk iklan yabg dilakukan secara halus. Informasi yang menjadi titik masuk bagi kejahatan siber seperti pemalsuan data, penipuan atau pencurian data. Contohnya email spam berisi informasi tidak penting atau tidak relevan, tidak jarang pula email spam menggiring penerima untuk mengklik tautan atau URL tertentu. Ketika di klik url ini akan mengarah pada situs web yang mengandung malware atau virus yang dapat merusak sistem komputer penerima email atau mencuri data penerima email.
Ada juga phishing, istilah penipuan yang menjebak korban dengan target menyasar kepada orang-orang yang percaya informasi yang diberikan jatuh ke orang yang tepat. Contohnya modus perbuatan yang dilakukan email atau SMS mengirimkan pesan kita mengaku teman lama, mungkin juga telepon dari orang-orang yang mengaku pegawai bank dan menyatakan kita sudah menerima hadiah. Setelah itu korban akan dipandu sehingga tanpa sadar membocorkan data pribadinya sendiri.
“Modus dari phishing ini menjual informasi kita, mencuri data, mencuri uang dari rekening bank kita dan menyerang kontak dalam jaringan rekan yang ada di ponsel. Makanya jika tiba-tiba ada teman kita yang menghubungi dengan nomor yang berbeda jangan pernah mengikuti apa yang dia minta. Misalkan langsung meminjam uang atau apapun yang mencurigakan,” jelasnya.
Terakhir, hacking merupakan tindakan mencari kelemahan dari sebuah sistem komputer. Hasilnya dapat berupa program kecil yang dapat digunakan untuk masuk ke dalam sistem komputer ataupun memanfaatkan sistem tersebut untuk suatu tujuan tertentu tanpa harus memiliki user account.
Hacking bisa dibilang pencuri di dunia maya yang mencuri data-data kita dengan menggunakan sistem komputer itu sendiri melalui keahlian mereka. Mereka ini memang orang-orang yang sebenarnya jago dalam urusan pemrograman. Tapi mereka memang memiliki niat yang jahat padahal sebenarnya jika mereka baik tidak berlaku zholim seperti itu mereka sangat bisa masuk perusahaan yang besar dengan gaji yang juga sangat tinggi berkat keahliannya.
Webinar juga menghadirkan pembicara, Billy Kwanda (Wakil GEKRAF Jawa Timur), Made Sudaryani (managing director D&D Consulting), Ismail Tajiri ( Ketua RTIK Sukabumi), dan Aflahandita sebagai Key Opinion Leader.












